MAKASSAR, EDELWEISNEWS.COM – Pemkot Makassar telah menerbitkan kebijakan bahwa per 1 Agustus 2026 hanya sampah residu yang boleh masuk ke TPAS Antang, yang berada di Kecamatan Manggala. Sampah residu adalah sampah yang sudah tidak bisa didaur ulang dan tidak bisa diolah jadi kompos.
Aturan tegas Walikota Makassar, Munafri Arifuddin, ini memaksa setiap warga melakukan pemilahan dan pengolahan sampah sejak dari rumah.

Mereka, mau tidak mau, harus belajar, melakukannya secara mandiri dan dengan disiplin. Karena dalam jangka panjang akan sangat bermanfaat bagi lingkungan dan kehidupan.
Pengalaman memilah sampah ini, dibagikan Ema Husain, seorang ibu rumah tangga, domisili di BTP, RT 01/RW 09 Kelurahan Tamalanrea, Kecamatan Tamalanrea.
“Siapa sangka, urusan memilah sampah kini menjadi topik diskusi paling ramai dan menarik di rumah tangga kami,” tulis Ema, Senin (3 Agustus 2026).
Keseruan itu tampak dalam percakapan antara dia dan suaminya, Fian, yang berprofesi sebagai advokat.
“Yang ini organik,” kata Fian, sambil menunjuk sampah dimaksud.
“Tunggu dulu, ayah … itu residu,” potong Ema.
Ema lantas meminta suaminya, memperhatikan flyer yang dibagikan Ketua RW 9 Kelurahan Tamalanrea.
“Kalau botol plastik masuk anorganik. Lalu kardus bekas masuk yang mana, ayah?” tanya Ema kemudian.
Percakapan seperti ini, kata Ema, menjadi nyanyian merdu yang terdengar di keluarganya akhir-akhir ini. Mungkin juga dialami keluarga lain. Suami, istri, bahkan anak-anak ikut berdiskusi, saling mengingatkan.
“Bahkan sesekali berdebat kecil, lalu tertawa ketika ada yang keliru,” lanjut Ema dengan menyertakan emoji senyum.
Menurutnya, kegiatan memilah sampah yang dulu dianggap sepele, kini berubah menjadi momen belajar bersama yang menyenangkan.
“Asli, saya tadinya termasuk ibu rumah tangga yang tidak pernah berpikir serius tentang memilah sampah,” ungkap perempuan aktivis tersebut.
Sebagai orang yang bergelut di dunia advokasi, ia mengakui bahwa inilah kekuatan sebuah kebijakan publik yang benar-benar secara dahsyat memaksa warga untuk berubah.
Juga sekaligus menyentuh kehidupan masyarakat itu sendiri, meskipun masih terjadi pro dan kontra.
Keluarganya bahkan membuat teba untuk mengolah sampah organik. Aktivitas suaminya saat memasukkan potongan-potongan sayur ke teba juga divideokan.
Ema menambahkan, bagi dia pribadi, Program Wali Kota Makassar ini tidak hanya mengubah cara mengelola sampah, tetapi juga membentuk budaya baru di dalam keluarga yang dulunya tidak terpikirkan.
Bagaimana urusan publik, kini hadir di ruang domestik, membangun kesadaran lingkungan dari rumah ke rumah.
“Anak-anak belajar bertanggung jawab sejak dini. Bocah saya sudah memulai memisahkan botol-botol minuman maupun botol air mineral,” terang Ema.
Anak-anak dipaksa untuk mengenal mana sampah organik, anorganik, dan residu. Meskipun menurut mereka, sudah dipelajari di bangku sekolah. Namun sekadar dipelajari saja.
“Sekarang kita harus ikut praktik,” Echa, anaknya ikut menimpali.
Anak-anak belajar bahwa setiap tindakan kecil memiliki dampak besar bagi lingkungan. Orang tua pun menjadi teladan, sekaligus ikut belajar bersama.
Ema optimis, jika kebiasaan ini terus tumbuh, maka kita bukan hanya menghasilkan lingkungan yang lebih bersih. Secara perlahan, katanya, juga akan melahirkan generasi yang mempunyai kepedulian dan disiplin serta bertanggung jawab terhadap lingkungan.
“Di satu sisi, memang masih terjadi permasalahan, termasuk pada keluarga saya. Apakah kita harus membeli ember, lalu mengecat sesuai warna yang kita lihat di media sosial?” ujarnya dengan nada tanya.
Namun, suaminya memberi masukan. Kalaupun belum ada ember, dimulai saja dengan memisahkan di kantongan hitam yang diberi tanda.
“Kita mulai saja dari kemampuan kita dulu. Biar perlahan-lahan. Sama, saat belajar naik sepeda, tidak langsung bisa. Namun mungkin akan jatuh, lalu bangkit, dan jatuh lagi. Akhirnya kita bisa ikut balapan,” ini pengandaian sederhana yang suaminya sampaikan pada dia dan anak-anaknya.
Pesan itu terasa bijak. Layaknya membangun kesadaran kritis, yang dilakukan secara bertahap dalam program-program pemberdayaan.
Berpikir melakukan perubahan besar memang tidak selalu dimulai dari kebijakan yang rumit.
Namun, kata Ema, terkadang lahir dari sebuah sudut rumah yang bernama tempat sampah. Mungkin pula dari percakapan sederhana di meja makan, dan dari tawa keluarga saat belajar memilah sampah dengan benar.
Makassar sedang membangun budaya baru. Kelak akan memberi perubahan mendasar, dan itu dimulai dari lingkungan keluarga.
“Saya berbagi kisah sederhana ini. Terinspirasi dari diskusi saya, bersama ayah, dan anak anak di rumah,” pungkas Ema Husain. (*)

