Kampung Kassi-Kassi Era Akhir 80an hingga Awal 90an

Oleh: Rusdin Tompo (Penulis dan Penggiat Literasi)

Suatu sore di Jalan Letjen Hertasning. Seperti pulang kampung.

Tahun 1987, untuk pertama kali ke Makassar, saya langsung ke sini. Kampung halaman mama. Kassi-kassi, namanya. Nama ini kini jadi kelurahan: Kelurahan Kassi-Kassi. Hanya berjarak + 6 km dari Lapangan Karebosi, 0 km-nya Makassar.

Dahulu, hanya nama kampung. Kelurahannya, masih Rappocini. Ciri kampung Kassi-Kassi, ketika itu, adalah pohon mangga yang menyebar. Bahkan satu pohon mangga besar tepat menaungi rumah kami.

Bila angin kencang, apalagi hari hujan, ranting-rantingnya jatuh. Mengejutkan. Mama kerap kali ‘mengungsi’, sebab tak mau dibikin kaget oleh dentam suara patahan ranting yang jatuh.

Monumen Emmy Saelan sebagai Penandanya

Ciri lain, Monumen Emmy Saelan, tugu peringatan gugurnya Pahlawan Nasional, yang punya kisah heroik. Lokasi TKP-nya sebenarnya tidak persis di tempatnya sekarang.

Menurut cerita mama, Emmy Saelan melakukan tindakan sebagai martir, di sekitar belakang SMP Negeri 13, yang berada di Jalan Tamalate VI. Kala itu, Januari 1947, pejuang yang tergabung dalam LAPRIS (Laskar Pemberontak Rakyat Indonesia Sulawesi) tersebut, terkepung tentara KNIL (Koninklijk Nederlands Indisch Leger).

Namun perempuan pemberani itu lebih memilih melemparkan granat, ketimbang ditangkap. Ia gugur sebagai syuhada, tetapi juga menewaskan 8 tentara KNIL pengejarnya.

Letak Monumen Emmy Saelan persis di sebelah jalan Kantor Pendidikan dan Kebudayaan (P dan K) Kota Makassar. Di belakang monumen, terdapat SMA Karya, dan perkampungan warga yang tembus ke Jalan Toddopuli I.

Sayangnya, posisi monumen penting itu, kini terjepit, terhalang pandang oleh bangunan-bangunan di depannya.

Makanya, saat kami audiensi dengan Walikota Makassar, Munafri Arifuddin, di Balai Kota Makassar, Jalan Jenderal Ahmad Yani, Senin, 3 November 2025, saya gembira, begitu mendengar bahwa Monumen Emmy Saelan akan direnovasi atau direvitalisasi.

Appi, begitu sapaan akrab Pak Wali, mau monumen pahlawan perempuan itu jadi ruang edukasi sejarah bagi masyarakat, terutama pelajar dan Gen Z. Appi mengemukakan niatnya itu ketika menerima sejumlah seniman dan budayawan yang tergabung dalam Makassar Art Forum (MAF).

Hadir saat itu, antara lain Asmin Amin, Dr. Asia Ramli Prapanca, Irwan AR, Andri Prakarsa, Djamal April Kalam, Kasmuddin “Ale Deep”, dan Arbiansyah. Kami didampingi A. Makmur Burhanuddin, Ketua Fraksi PKB, DPRD Kota Makassar.

Patut diakui, kondisi Monumen Emmy Saelan sangat jauh berbeda dengan dahulu, ketika akses jalan ke situ masih luas. Tak banyak bangunan yang mengganggu pandangan.

Hanya ada 2 rumah di sekitar situ. Satu milik Daeng Tarring, yang berada agak jauh di depan, satunya lagi milik Daeng Ugi, yang posisinya hanya sekira 1,5 meter dari tembok pagar monumen.

Memang, di kampung Kassi-Kassi masa itu belum banyak rumah tinggal. Tetangga kami, hanya Tante Hasna, Daeng Siang, dan Daeng Caya. Sedikit berbelok, ada Mama Ronald, yang suaminya pegawai PLN, dan Mama Laura, yang suaminya pelaut.

Setelah itu area persawahan yang luas, jadi pembatas tempat tinggal kami dengan SD Inpres Kassi-Kassi dan Kompleks Pegawai Pemprov Sulawesi Selatan.

Ada jalan menuju sekolah dan kompleks perumahan yang membelah sawah itu. Satu-satunya rumah di tengah persawahan, adalah rumah Daeng Puji.

Kami masih leluasa melihat matahari terbit dari punggung Gunung Bawakaraeng. Bila pagi, saat cuaca dingin, terkadang terlihat halimun.

Ujung Jalan Letjen Hertasning dahulu masih ‘jalan buntu’, belum terhubung dengan Jalan Aroepala. Ada beberapa keluarga tinggal di situ, antara lain Hj Darmi, Pak Makmur, dan Mas Joko.

Di ujung jalan itu pula ada pekuburan keluarga, yang sempat jadi “penghalang” pembebasan lahan untuk jalan tembus seperti saat ini.

Mesti Berjalan Jauh

Lagi-lagi, dahulu–sampai awal 90an–sulit sekali mencari warung di daerah
ini, jika kita pengen makan di luar rumah. Pilihannya tak banyak. Itupun harus berjalan kaki cukup jauh.

Kita mesti ke taman bunga yang
berada tepat di pannyingkul Lapangan Tamalate, depan kantor PLN. Ini lapangan sepakbola, yang bisa dimanfaatkan untuk sholad Ied, ketika Idulfitri dan Iduladha.

Namanya taman bunga, tetapi jangan harap
melihat bunga. Mungkin karena kambing-kambing sering mangkal di sana. Maka dipelesetkanlah tempat itu jadi taman kambing oleh warga.

Di taman itu hanya ada beberapa pedagang. Jualannya martabak dan terang bulan. Juga pedagang pisang goreng dan ubi goreng plus sarabba.

Warung yang ngehits kala itu adalah bakso Solo Baru, dekat pasar–nanti pedagangnya direlokasi ke Pasar Toddopuli. Eh, ada juga satu warung Sop Saudara yang sampai saat ini masih ramai.

Selain itu, terdapat pula pedagang sate di depan lorong SMA Nur Karya atau bersebelahan dengan PLN Pikitring. Saya masih sempat jadi pelanggan sate ini hingga berumah tangga dan punya anak.

Kini, begitu banyak tempat makan tersedia di perempatan Jalan Letjen Hertasning-Jalan Tamalate-Jalan Toddopuli Raya. Tinggal pilih, sesuai kocek.

Perempatan Strategis

Perempatan ini begitu strategis karena merupakan jalur pete-pete, trayek Perumnas-Pa’baeng-baeng-Makassar Mall. Disebut trayek Perumnas, karena kawasan Tamalate, Tidung, dan Toddopuli dibangun oleh Perumnas, yang kantornya tepat berada di pojok jalan, sebelah lapangan.

Kami suka menunggu angkot di situ, biar langsung ke luar ke arah yang dituju. Kebanyakan penumpang angkot juga lebih memilih turun di situ, bila tak mau mutar-mutar di bawa ke Tidung atau Toddopuli.

Di samping Kantor Perumnas, ada pula Bank BTN, Kantor Pembangunan Perumahan (PP), dan Kantor PT Adhi Karya, yang sejajar dengan kantor P dan K.

Pada sore, 13 Januari 2019, ketika tulisan ini pertama kali diketik, saya tengah berada di OTW Food Street, yang bikin saya terbawa nostalgia di Hertasning… eh Kassi-Kassi.

Saya berada di sana, karena kembali hendak menjajal kopinya. Setelah mengikuti sesi meeting dengan peserta Gerakan Seniman Masuk Sekolah (GSMS), di tempat yang sama.

Kafe bergaya industrial itu, kini hanya tinggal cerita. Tempatnya beberapa kali berganti nama. Namun, kenangan pada Kassi-Kassi, tidak pernah berubah. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Makassar SULSEL

Pengajian Dekave #1: Merawat Imajinasi Kreatif dari Balik Sebuah Visual

MAKASSAR, EDELWEISNEWS.COM – Di tengah derasnya arus gambar yang setiap hari melintasi layar gawai, ada satu pertanyaan yang jarang diajukan: dari mana sebuah visual memperoleh maknanya? Sebagian besar orang menikmati hasil akhirnya, tetapi sedikit yang bersedia menelusuri proses panjang yang melahirkannya. Padahal, di balik setiap poster, sampul buku, logo, ilustrasi, hingga identitas sebuah gerakan, selalu […]

Read more
Makassar SULSEL

Kebakaran Terjadi di Lantai 4 NIPAH Mall Makassar, Dua Orang Alami Sesak Napas

MAKASSAR, EDELWEISNEWS.COM — Kebakaran terjadi di kawasan NIPAH Mall, Jalan Urip Sumoharjo No. 23, Kelurahan Panaikang, Kecamatan Panakkukang, Kota Makassar, Minggu malam (9 Agustus 2026), sekitar pukul 21.30 WITA. Berdasarkan laporan awal Regu Delta Posko Penanggulangan Bencana BPBD Kota Makassar, api pertama kali diketahui setelah terlihat oleh staf mal di area lantai 4. Petugas gabungan […]

Read more
Makassar SULSEL TNI / POLRI

Ribuan Warga Makassar Tumpah Ruah Di NBOD HUT Kodaeral Tahun 2026

MAKASSAR, EDELWEISNEWS.COM – Hari ini menjadi hari yang tak terlupakan bagi ribuan warga Makassar. Mako Kodaeral VI berubah menjadi lautan manusia saat perhelatan Naval Base Open Day (NBOD) 2026 dalam rangka HUT Kodaeral VI resmi dibuka. Sejak matahari baru saja terbit, antusiasme warga sudah tak terbendung, memadati setiap sudut pangkalan demi menyaksikan langsung kedigdayaan alutsista […]

Read more