Oleh: Rusdin Tompo (Penulis, Penggiat Literasi, dan Koordinator Satupena Sulawesi Selatan)
Saya memasuki ruangan berdinding kaca, yang di depannya terdapat x-banner bertuliskan Pameran Tunggal Seni Rupa “Kampung Garam” karya Ahmad Anzul, kurator Achmad Fauzi, 19-21 Oktober 2026, Spirit Leang-Leang.
Pada x-banner itu, kita bisa melihat foto Ahmad Anzul, mengenakan kaos dan ikat kepala, mirip musisi Axl Roses dari grup Guns N’ Roses. Wajah Anzul terlihat dingin.

Sore itu, Rabu (21/10), merupakan hari terakhir pameran. Saya masuk ke dalam ruangan seukuran kira-kira 4×7 meter. Di dalam ruangan terdapat 2 meja, dengan masing-masing 2 kursi.
Ada dua laki-laki duduk saling berhadapan, di salah satunya. Di hadapan mereka laptop terbuka. Mungkin keduanya tengah bekerja. Dua gelas kopi, yang tak lagi berisi penuh menemani.
Saya mengambil posisi di meja yang kosong, menaruh kopi susu pesanan, lalu menarik kursi untuk duduk, sembari mata saya menyapu lukisan-lukisan yang dipamerkan.
Ruangan yang memajang karya-karya Ahmad Anzul, terpisah dari ruangan lebih besar, yang menampilkan karya-karya perupa Amrullah Syam, bertema Tafsir Tradisi.

Pameran kedua perupa ini digelar di Warkop Indonesia, Jalan Anggrek Raya Nomor 23, Panakkukang. Kegiatan Pameran Seni Rupa dan Diskusi Kampung Garam dan Tafsir Tradisi ini didukung oleh Kementerian Kebudayaan RI melalui Dana Indonesiana.
Panel Kuadripartit
Tak puas hanya mengamati dari jauh. Saya berdiri, mendekat pada lukisan-lukisan Ahmad Anzul yang ditaruh di atas meja, sebelah kanan dari pintu masuk.
Lukisan-lukisan itu berupa empat bidang gambar berukuran kecil, disusun dalam satu formasi, sehingga tampak lebih besar. Di balik gambar-gambar yang dilukis di atas kanvas dengan akrilik itu, diberi nomor.
Misalnya, pada satu rangkai gambar, ada #324, #323, #320, dan #306. Pada rangkaian gambar lain, diberi nomor #257, #289, #291, dan #291. Di salah satu gambarnya terdapat pula angka 03 03 2021, mungkin berkaitan dengan tanggal, bulan, dan tahun gambar tersebut dibuat.
Di atas meja yang sama, terdapat lembar-lembar gambar yang ditumpuk seadanya. Jumlahnya puluhan.
Saya coba menerawang, memasuki lorong pikiran pelukisnya ketika tangannya mencorat-coret warna-wani itu di atas kanvas.
Saya tidak tahu, bagaimana meletakkan gambar-gambar itu: mana bagian atas, mana yang bawah. Mungkin juga posisinya bisa bertukar, tergantung selera komposisi orang yang mengaturnya.
Kalau diatur dengan komposisi tertentu, gabungan gambar itu bisa menjadi sebuah pajangan dekoratif. Masing-masing gambar bisa tampil sendiri tetapi terlalu kecil untuk mengisi sebuah ruang. Apalagi tanpa bingkai, yang bisa membuat kita fokus pada objeknya.
Maka menikmati lukisan-lukisan mini itu memang mesti digabung, walaupun gambar-gambar tersebut bukanlah keping mozaik.
Pandangan mata saya berpindah, pada dinding yang memajang 15 panel kuadripartit, yakni komposisi yang terdiri atas empat bagian gambar. Setiap panel dirangkai dengan lakban hitam di bagian belakang, di mana satu rangkai terdiri dari 4 potongan gambar seukuran 10×10 cm.
Saya bergerak, ke arah dinding yang menghadap pintu masuk. Terdapat panel serupa, terdiri dari 60 lukisan berukuran kecil, dan satu panel lain di sampingnya, terdiri dari 15 rangkaian gambar.
Semua lukisan-lukisan kecil itu tanpa dibubuhi keterangan. Pengunjung tidak mendapat informasi memadai terkait label karya (wall label), seperti judul karya, ukuran karya, nama seniman, medium dan teknik yang digunakan, serta tahun pembuatan. Katalog pameran yang bisa membantu pengunjung memperoleh informasi terkait seniman dan deskripsi lengkap setiap karya tak tersedia.
Padahal penting, apalagi bagi seniman yang sudah wafat. Dengan begitu, catatan kuratorial akan menjadi dokumen dan arsip seni rupa yang tidak saja informatif tetapi juga mengedukasi.
Pameran ini nirleka nir-narasi selain tulisan:
Rindu yaa..?
Sama kami
Ahmad Anzul
Sebagai pengunjung, kita menafsir sendiri. Atau paling banter menikmati guratan-guratan yang kadang terasa ritmis dan puitis.
Eksperimen Ekspresi
Saya berdiri sambil membuat catatan atas pembacaan karya-karya ukuran mungil itu. Gambar-gambar yang lahir bagai seorang kanak-kanak mengisi waktu luang. Paling tidak, itu pengalaman saya di masa kecil, kala masih getol-getolnya menggambar.
Pada karya-karya Ahmad Anzul, terasa eksplorasi garis, warna, bidang, tekstur, dan gestur dilakukan. Tampak kecenderungan abstraksi, yang tak harus menuntutnya menghadirkan objek yang jelas terbaca dan dikenali.
Lukisannya tumbuh dari persilangan garis, tumpukan warna, coretan, dan pengulangan motif visual. Ada gambar yang didominasi warna biru dengan garis-garis samar, ada yang kontras hitam putih, ada pula yang mempertemukan warna-warna cerah, seperti merah, kuning, jingga, hijau, dalam suasana dan susunan yang padat.
Karya-karya Ahmad Anzul menerakan jejak garis dan ingatan. Garis-garis itu berkelok, berputar, bertumpuk, mengular, menyilang, membentuk simpul, terkadang serupa figur. Garisnya kadang tegas dan gelap, tetapi pada karya lainnya hadir tipis, samar, dan getir.
Ahmad Anzul berani bermain warna. Baginya, warna lebih dari sekadar memperindah permukaan. Namun, warna mengatur suasana, menentukan tekanan visual, dan cara mata mencermati, bergerak dari satu bagian ke bidang lain.
Ranahnya sebagai perupa punya tempat tersendiri. Ia gesit, lincah, dan kreatif melukis di atas bidang yang kecil dan sempit. Format gambarnya boleh kecil tetapi skala pengalaman visual yang disampaikannya terbilang luas.
Ahmad Anzul mau mengatakan, medium yang kecil dan sederhana tak bisa menghentikan optimismenya berkarya. Keterbatasan ruang bukan alasan untuk kaku mengelaborasi ide-ide. Sebab kreativitas justru ditantang dalam serba keterbatasan.
Bacaan saya, Ahmad Anzul seolah menyuarakan ruang gerak hidup manusia pada kotak-kotak nasib yang terasa sempit, di mana gerak hidup berpusing dari itu ke itu juga. Bahkan cenderung sengkarut.
Karya-karya tanpa judul itu, membuat kita sebagai penikmat lukisannya bebas menemukan asosiasi masing-masing, baik terkait figur, fragmen lanskap, tanda, simbol, atau sekadar memahami garis dan warnanya.
Ikonografis Kampung Garam
Jangan berharap banyak bahwa Pameran Tunggal Seni Rupa bertitel “Kampung Garam” itu, serta-merta menyodorkan gambar-gambar kampung garam. Brand Ahmad Anzul sebagai perupa kampung garam tidak otomatis membuat kita bisa menemukan identitas lokal kampung garam dengan posisi dan praktik seninya–paling tidak dalam pameran tersebut.
Lukisan-lukisannya dalam pameran berlabel “kampung garam” sama sekali tidak menunjukkan rujukan ikonografis yang secara jelas dapat diidentifikasi sebagai gambaran kehidupan kampung garam. Awam lebih mudah menangkap lukisan-lukisan itu sebagai eksplorasi garis, warna, dan komposisi abstrak di bidang yang kecil. Meski begitu, perupanya terbilang cukup produktif, energinya tercurah pada pengkaryaan.
Sebagai informasi, di Sulawesi Selatan, ada beberapa daerah yang terkenal sebagai penghasil garam. Di Kabupaten Jeneponto sebagai penghasil garam terbesar di daerah ini, sentra garam terdapat di Bangkala, Arungkeke, Bangkala Barat, dan Tamalatea.
Produksi garam juga bisa ditemui di Kabupaten Pangkep, dengan sentra garam berada di Labakkang dan Bungoro.
Di Kabupaten Takalar juga terdapat sentra produksi garam, yakni di Mangarabombang dan Mappakasunggu. Kabupaten Selayar juga tercatat sebagai penghasil garam, di mana sentranya berada di Bontoharu.
Karena itu, butuh penelusuran lebih lanjut untuk mengaitkan kehadiran karya-karya artistik Ahmad Anzul dengan brand-nya sebagai perupa kampung garam. Tanggung jawab itu, mestinya diemban oleh Kurator Pameran, Achmad Fauzi, dan Koordinator Program, Wahyuddin Yunus.
Dalam sejumlah pemberitaan terkait pameran (tribuntimur.com, pelakita.id, dan matakita.co) disebutkan bahwa “Spirit Leang-Leang, Napas Panjang Seni Rupa Makassar #3”, mengangkat hubungan antara seni, tradisi, dan kehidupan masyarakat pesisir.
Karya Ahmad Anzul, tulis berita itu, menggambarkan kehidupan masyarakat pesisir melalui pengalaman personal dan ingatan masa kecil.
Karya “kampung garam”, sebelumnya menjadi bagian dari pembacaan seni rupa dalam Makassar Biennale 2017. Mengutip catatan art.e.fact, dikatakan bahwa Ahmad Anzul mengolah pengalaman masa kecil dan kehidupan sehari-hari masyarakat pesisir menjadi karya yang menempatkan kampung garam sebagai material sekaligus simbol perjalanan hidup.
Dalam pameran ini–lagi-lagi tulis berita tersebut–proses produksi garam, mulai dari penguapan air laut, kristalisasi, hingga panen, dimaknai sebagai metafora proses kreatif seorang seniman. Pengalaman hidup yang terus mengendap kemudian diolah melalui perenungan hingga menghasilkan karya visual.
Wahyuddin Yunus, sebagai Penanggung Jawab Program Spirit Leang-Leang bilang, ia mengkoordinasikan kegiatan yang tidak hanya berorientasi pada penyelenggaraan pameran, tetapi juga pendokumentasian karya dan pemikiran para perupa Makassar.
Sebuah upaya yang patut diapresiasi. Pasalnya, Ahmad Anzul telah menjadi bagian dari perjalanan sejarah seni rupa di Makassar. Sebagai seniman instalasi dan perupa kampung garam, ia ikut berkontribusi dan memberi warna pada dinamika keseni-rupaan di daerah ini.
Ikhwal julukan perupa kampung garam, Goenawan Monoharto menceritakan pengalaman Ahmad Anzul saban kali dibuatkan menu telur dadar oleh istrinya, yang dinikahi di Hari Bahari Nasional.
Ahmad Anzul, kata seniman fotografi itu, selalu kebagian potongan telur di mana garamnya mengumpul. Itu yang membuat wacana kampung garam melekat di benak kawannya tersebut.
Ahmad Anzul kian mantap pada konsep kampung garam sepulangnya dari Baloiya, Kabupaten Selayar. Kala itu, ia baru saja turut mengerjakan artistik tugas akhir S2 penciptaan Hamrin Samad, sahabatnya. Di siang terik, mobil yang ditumpangi bersama rombongan tiba-tiba berhenti di Jeneponto, tepat di daerah yang terkenal sebagai sentra produksi garam rakyat.
Begitu turun dari mobil, Ahmad Anzul menghirup aroma ladang garam. Bau asin yang pekat seolah merasuki tubuhnya. Seketika ia merenungkan perihal garam dan manfaatnya.
Persinggahan di dekat ladang garam, punya makna mendalam. Ahmad Anzul bukannya merasa gerah terpapar panas di area gersang. Ia justru menuai peristiwa imajinatif sebaliknya. Dibayangkan, ada kupu-kupu membawa es batu yang membuatnya merasa sejuk.
“Saya mesti membuat karya yang menyejukkan hati orang lain. Jadilah Anzul juragan “Kampung Garam”,” kata Ahmad Anzul sebagaimana dinukilkan Goenawan Monoharto di Mapress.co.id.
Kisah Ahmad Anzul dan kampung garam juga bisa dibaca di Tempo.co, yang diunggah pada 18 Januari 2015. Di artikel itu, Ahmad Anzul mengaku mulai mengerjakan seri kampung garam sejak tahun 2014.
Terkadang, ia melukis hal yang tidak rasional, seperti dalam lukisan Mencari Berlian di Tumpukan Garam, seri Kampung Garam #22. Lukisan ini sebagai kritik terhadap banyaknya pejabat di pemerintahan yang ditempatkan tak sesuai dengan keahliannya.
Sebagai seniman otodidak, ia mematangkan konsep kerjanya dengan berdiskusi secara intens bersama sejumlah seniman. Nama-nama seperti Ahmad Fauzi, Budi Haryawan, Amrullah Syam, Ishakim, Jenry Pasassan, Faisal Syarif, Asdar Muis RMS (almarhum), dan sejumlah perupa dan penggiat seni pertunjukan merupakan lingkaran pertemanannya dalam berdiskusi.
Goenawan Monoharto menunjukkan salah satu bukti karya instalasi Ahmad Anzul yang berasa kampung garam. Karya instalasi berjudul Home #5 ditampilkan dalam Pameran Mengenang Leang-Leang di Fort Rotterdam, 12-19 November 2021.
Menurut Ahmad Anzul, Leang-Leang di kawasan arkeologi Maros-Pangkep yang berusia lebih dari 51.200 tahun, merupakan titik nol seni rupa dunia.
Dalam pameran bertema “Spirit Leang-Leang, Melampaui Rupa, Memaknai Nilai Sejarah”, yang diselenggarakan Makassar Art Initiative Movement (MAIM) itu, Ahmad Anzul menampilkan Home, berupa tiga rumah di bumi. Pertama, sarang sebagai rumah burung; kedua, rumah sebagaimana dihuni manusia; dan ketiga, karamba/rompong/bubu sebagai rumah ikan.
Di karya seni instalasinya itu, Ahmad Anzul menumpuk, mengurai, dan menata sekira seratusan kilogram butir-butir garam yang didatangkam dari Jeneponto dan Pangkep. Dibayangkan, butir-butir kristal garam tersebut akan memberi efek kilau manakala terkena sinar matahari.
“Bila turun hujan, tak apa, memang takdirnya kembali ke air,” katanya filosofis.
Karya yang Berjejak
Ahmad Anzul lahir di Makassar, 11 September 1967. Saya pertama kali melihat dia, ketika sering bertandang ke rumah Hamran di Kampung Kassi-Kassi, di Jalan Letjend Hertasning. Dia datang bersama pelukis tanah liat, Zainal Beta, Syafar, Ari, dan kawan lainnya. Hamran ini ponakan saya. Rumah kami berseberangan jalan. Nanti Hamran menikah dengan tantenya, Ahmad Anzul.
Seingat saya, Ahmad Anzul mula-mula membuat kerajinan gelang, saat masih di Pasar Seni Somba Opu, tahun 1990-an. Kawasan ini dahulu dikembangkan sebagai Proyek Miniatur Sulawesi Selatan. Tahun 1999, lingkungan sosialnya di Gedung Kesenian Societeit de Harmonie ikut mempengaruhi minatnya pada seni rupa. Di tahun itu, ungkap Zainal Beta, Ahmad Anzul mulai melukis.
Sebagai perupa ia ikut berpameran pada Makassar Art Forum 99. Ia menampilkan karya di Stasiun 9 Festival Kampung Mangasa yang diinisiasi Rimba Kasumba, dan menyajikan seni pertunjukan Kampung Garam di halaman rumah Asdar Muis RMS di Sudiang.
Ahmad Anzul melanglang ke Bali atas undangan seniman tari Prapto Suryodarmo untuk pertunjukan ritual “Segenggam Tanah” (Trilogi: Tanah).
Ia membawa tanah, menanam pohon rambutan dan kelapa pada Collaboration Asia-Eropa in Art and Environment di Tejakula, Singaraja, tahun 2000.
Ia juga berpartisipasi pada pameran seni rupa Kalimantan Art Exibition II di Balikpapan, tahun 2005.
Di tahun 2016, bersama Amrullah Syam, ia mengerjakan patung tiga tokoh dunia: Nelson Mandela, Syekh Yusuf al-Makassari, dan Mahatma Gandhi. Patung ini bisa dilihat di Anjungan Pantai Losari, yang merupakan landmark Kota Makassar.
Ia memiliki kepedulian sosial yang tinggi. Misalnya, pernah mengajar di Lembaga Pemasyarakatan Khusus Imigran di Gowa, tahun 2016. Pernah pula berkeliling kabupaten mengajar membatik, di tahun 2017.
Pada Makassar Biennale 2017, karyanya Kampung Garam #107 dipamerkan.
Dua tahun berikutnya, dalam Makassar Biennale 2019, ia terlibat dalam tim FindArt Space.
Tahun 2021, Ahmad Anzul ikut men-display karya kolaborasi fotografi dan tari berjudul Refocusing Pakarena.
Semasa hidupnya, ia aktif berorganisasi. Pernah jadi anggota Departemen Seni Rupa Dewan Kesenian Makassar (DKM), bergabung di Yayasan FindArt Space di Antang, juga bergiat di Makassar Art Initiative Movement (MAIM),
Sejumlah karyanya dijadikan sampul buku terbitan Penerbit De La Macca dan Garis Khatulistiwa, juga sampul Majalah Macca.
Di kantor penerbit De La Macca itu pula merupakan kali terakhir saya bertemu dengan lelaki rendah hati itu, tepatnya dua hari sebelum Hari Raya Idulfitri.
Ahmad Anzul tak lagi berbicara, hanya menunjuk lehernya, dan dengan isyarat, hendak menyampaikan bahwa suaranya tidak bisa lagi keluar. Jadilah saya dan Goenawan Monoharto ngobrol, dan Ahmad Anzul menyimak dengan tangan yang disilangkan, sambil sesekali senyum kecil.
Minggu, 22 Maret 2026, kami mendengar kabar duka itu. Ahmad Anzul berpulang ke Sang Pencipta.
Serupa garam yang telah memberi rasa pada kehidupan, ia larut dalam kefanaan. Sosoknya telah tiada, tetapi jejak rasa karyanya tetap tinggal pada hidup yang pernah digaraminya. (*)

