MAKASSAR, EDELWEISNEWS.COM – “Dalam memaknai buku antologi puisi tentang Syekh Yusuf Al-Makassari dalam tiga bahasa ini, saya melihat bahwa para penulis dan penyair memanifestasikan rasa hormat, bangga, dan pengakuan terhadap ketokohan Syekh Yusuf sebagai ulama, penjuang, pendakwah,” jelas Prof. M. Asfah Rahman, M.Ed, Ph.D.
Buku yang dimaksud Guru Besar Fakultas Bahasa dan Sastra (FBS) Universitas Negeri Makassar (UNM) itu berjudul “Spirituality and Liberation: A Poetry Anthology for the 400th Anniversary of Shaykh Yusuf Al-Makassari”, ditulis dalam bahasa Indonesia, Inggris, dan Makassar. Buku antologi puisi ini disusun oleh Muhammad Hamdar Arraiyyah, et al., untuk mengenang Pahlawan Nasional asal Sulawesi Selatan tersebut.
Prof. M. Asfah Rahman mengemukakan hal itu pada peluncuran buku antologi puisi yang diterbitkan oleh Komisi Penelitian, Pengkajian, dan Pengembangan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Makassar, di Hotel Karebosi Premier, Sabtu, 19 September 2026.
Menurut Prof. M. Asfah Rahman, persepsi penulis antologi puisi terhadap sosok Syekh Yusuf, digambarkan sebagai orang yang tekun menuntut ilmu, punya martabat dan menjunjung kebenaran. Selain itu, juga digambarkan sebagai orang yang tegas melawan penindasan/kezaliman, serta berjuang untuk kemanusiaan. Juga terkandung nilai-nilai spiritualitas religiositas.
Latar belakang penulis, terdiri dari penulis, penyair, seniman visual, tokoh sastra, pendidik, jurnalis, dan aktivis sastra. Mereka adalah Andi Marliah, Anil Hukma, Asia Ramli Prapanca, Aspar Paturusi, Ishakim, Kembong Daeng, Muhammad Amir Jaya, Muhammad Hamdar Arraiyyah, Muh. Hamzah Zaidin, Muliaty Mastura Yusuf, Rusdin Tompo, Syahril Ramli Rani, dan Yudhistira Sukatanya.
“Puisi-puisi ini mengungkapkan apa yang dijalani, diajarkan, diamalkan dan dicontohkan oleh Syekh Yusuf,” ungkap Ketua Lembaga Pengkajian dan Pengembangan, Pendidikan dan Pengajaran UNM itu.
Disampaikan, kandungan dalam buku antologi tentang Syekh Yusuf mencakup tiga aspek. Pertama, cinta tanah air: bela kebenaran, lawan kezaliman dan penindasan walau harus terusir dari tanah air; kedua, ilmu dan amal: tuntutlah ilmu di manapun itu, amalkan dan ajarkan. Ulama tidak hanya di masjid dan majelis ilmu, tetapi juga di medan perang; dan ketiga, Keteguhan iman: konsisten berdakwah meskipun di negara asing bahkan di penjara.
Prof. M. Asfah Rahman kemudian membedah puisi karya Muhammad Hamdar Arraiyyah, berjudul “A Dream of Shaykh Yusuf’.
Puisi naratif sejarah ini, katanya, dibuka (bait 1) dengan setting real, spesifik “… king’s palace…/Inside the Fort Sombaopu, Makassar / At the mouth of the Jeneberang River of Gowa”. Pada bait 2, diungkapkan ironi sejarah, datangnya pedagang — “… traders”, tetapi membawa senjata “… firearms…” yang ternyata penjajah. Dan, dengan gaya eufemisme realitas, pengkhianatan tokoh lokal diungkap secara halus –“Some local leaders stood by their side”.
Selanjutnya, pada bait 3, digambarkan kekalahan Kerajaan Gowa, keruntuhan Sombaopu, dengan gaya metafora — “… wooden palace collapsed into pieces” dan personifikasi – hiperbola –“Blood and tears fell on the coast …”. Meskipun demikian, banyak kesatria yang tidak mau tunduk ke penjajah (VOC) dan mengadakan perlawanan yang dilukiskan secara metafora –“They went far away to breathe fresh air.”
Bait 4 menggambarkan Syekh Yusuf sebagai ulama sekaligus pejuang. Ciri khas Tuanta Salamaka, kitab di dada, badik di pinggang, disimbolkan dengan “… pen and weapon …” Simbol religius “… faced the Ka’bah…” menunjukkan sikap istiqomah penyerahan diri walaupun hati hancur (kalah) “… shattered heart”.
Pada bait 5 disampaikan pesan filosofis yang diperjuangkan “Freedom belonged to everyone …/Al-Makassari paid a high cost for his longging/…for the people of Makassar and the Nusantara”, Kebebasan itu milik semua, dan Syech Yusuf membayar mahal atas perjuangan ini berupa kerinduan pada tanah Makassar dan Nusantara.
Puisi karya Muhammad Hamzah Zaidin, berjudul “Sheykh Yusuf al-Makassari in Ceylon” termasuk yang dibahas. Prof. M. Asfah Rahman menyebut puisi ini termasuk balada, naratif heroik, dan bentuk kuatren.
Dijelaskan bahwa pada bait pertama puisi dibuka dengan gaya bahasa deskriptif yang melukiskan perpisahan dan penegasan kehebatan Syech Yusuf dengan 3 (tiga) gelar–“a scholar, saint, and fearless guide”.
Bait kedua mengandung metafora — “his light” (ilmu dan pengaruh Syech Yusuf), kontras sekaligus antitesis–“The colonizers thought his light would fade / Yet brighter grew its sacred flame”, dan personifikasi — “God’s eternal hand” (tangan Tuhan yang abadi).
Pada bait ketiga menggunakan metafora ‘cahaya’ — “His words became a lamp of hope (Ajarannya menjadi pelita harapan) dan hiperbola “Shining beyond the darkest ocean” (Cahayanya sampai ke seberang samudera). Ungkapan ini bermakna bahwa meskipun diasingkan, dakwah dan ilmu yang diajarkan tetap sampai.
Sedangkan pada pait keempat dibuka dengan kutipan religius — “La ilaaha illa-llah echoed still” zikir tahlil langsung, sehingga puisi menjadi sakral, diikuti dengan aliterasi –“A timeless call to every soul”.
Selanjutnya, bait kelima berisi hiperbola yang tertera dalam sejarah –“His pen outlived the might of empires” (Penanya lebih bertahan lama daripada kerajaan VOC.) Faktanya, VOC bubar tetapi buku-bukunya masih ada dan dibaca). Bait ini juga mengandung metafora “His wisdom crossed both sea and sky” gambaran tentang luasnya jangkauan dakwahnya.
“Puisi karya Muhammad Hamzah Zaidin ditutup dengan gaya bahasa simbolik –“A beacon for all humankind” (mercusuar, simbol petunjuk). Juga diberikan julukan “Tuanta Salamaka” sehingga identitas Makassar tetap hidup,” kata Prof. M. Asfah Rahman.
Puisi karya Rusdin Tompo berjudul “Ilmu-Amal Satu dalam Laku” juga dikupas.
“Judul puisi ini menggambarkan ajaran utama tarekat Khalwatiyah Syech Yusuf, yakni ilmu dan amal tidak terpisah dan harus direalisasi dalam perbuatan dan tindakan. Puisi ini puisi bebas tidak terikat rima, dengan tekanan sufi-filosofis Makassar,” kata Prof. M. Asfah Rahman.
Inti puisi yang dominan metafora cahaya ini dapat diekstrak sebagai cermin ajaran Khalwatiyah.
baris 1: Ilmu adalah cahaya dan amal adalah buktinya.
baris 6: … cahaya ilmu mesti terurai.
baris 22: … ilmumu berpendar terangi semesta …
baris 23: Jadi suluh penuntun langkah … yang mengungkap bahwa ilmu bukan hiasan, tetapi lampu; bukan teori, tinggi, jauh — “menara tak tergapai” tetapi — dekat, praktis, dan hidup —“denyut nadi yang dapat diraba”.
Ilmu yang diajarkan benar-benar dapat dipraktikkan, dirasakan dan/atau disaksikan sehari-hari. Bahkan, ilmu harus menjadi “taman amal … rimbun oleh pancarona kebajikan”, taman yang hidup, bukan hafalan mati.
Prof. M. Asfah Rahman menambahkan, istilah Makassar digunakan untuk menguatkan identitas dan kearifan lokal Makassar; seperti “pappasang turiolo” mengambil ilmu dan ajaran sebagai petuah leluhur Makassar, yang oleh masyarakat Makassar harus dihargai, dipelajari dan ditaati. Petuah leluhur ini adalah “pappilajarang” yang senantiasa didendangkan oleh “pasinrilik” demi kelanggengan dan penyebarannya ke masyarakat.
Pengasingan Syekh Yusuf ke Ceylon dan Cape Town tidak menghentikannya berjuang menebar ilmu — “Walau gerak kebebasanmya terpenjara/Tetapi ilmumu berpendar terangi semesta”.
Prof. M. Asfah Rahman selanjutnya membedah puisi Kembong Daeng, berjudul “Accarammengki ri Tuanta Salamaka”.
“Puisi ini termasuk religius deskriptif, dengan struktur Kelong Makassar klasik yang umumnya diakhiri dengan ajakan dan doa,” terangnya.
Bait 1 mengungkap rasa syukur atas lahirnya tokoh besar Syekh Yusuf di Makassar. Bait 2, 3 dan 4 menggambarkan sifat karakter Syekh Yusuf sebagai ulama sufi, berani, jujur, dan keluasan ilmu agamanya. Bait 5 adalah ajakan untuk bercermin meneladani agar selamat dunia akhirat atas ridho Allah.
Prof. M. Asfah Rahman menilai puisi ini menggunakan gaya bahasa repetisi. Misalnya, kata Tuanta Salamaka diulang di setiap bait sebagai pengikat. Berikutnya gaya bahasa paralelisme, seperti “Ammenteng ri … Ammempo ri … (Berdiri di … Duduk di …), “Toddopuli … Tantang ..” (Teguh … Tegak …).
Ajakan langsung kepada pembaca “E .. tau Mangkasaraka…”. Majas budaya digunakan seperti “Malabbiritta’ (orang terpuji), “Tubarani” (orang berani), “Manngasseng” (orang berilmu/cerdas).
Selanjutnya, puisi karya Asia Ramli Prapanca, berjudul “Munajat Abadi di Tepi Khalwat” dibahas.
Ini puisi sufi, dialogis, bukan tentang Syekh Yusuf, menggunakan ‘engkau’ dan “kau” menandakan kedekatan antara mereka … “Kau datang tanpa pedang/Tapi pengasingan itu sendiri runtuh di hadapanmu”.
Prof. M. Asfah Rahman yang mengaku bukan kritikus sastra itu mengulas bahwa paradoks yang amat kuat ini dilanjut dengan “… tanpa membawa kitab tebal/Namun satu napasmu saja cukup menjadi tafsir”. Praktik sufi tarekat Khalwatiyah mengikis keraguan dan kelelahan penyair dan melapangkan tafakurnya “Ruang tafakurku ini sempit/Sempit oleh ragu dan lelah/Tapi ketika kau hadir, ia meluas …”
Bisikan sang sufi “… Diamlah Asia. Tapi jangan padam” merupakan inti ajaran Khalwatiyah, diam tidak berarti padam, hilang, mati. Diam tetapi jaga cahaya nurani tetapi menyala; tetaplah diam dalam tafakur, tetapi tidak membiarkan semangat mati.
Karya Aspar Paturusi berjudul “Rajawali dari Timur” juga diulas oleh Prof. M. Asfah Rahman.
Metafora Rajawali, katanya, melambangkan ‘terbang tinggi — ilmunya tinggi, mata tajam — bashirah sufi, dan dari Timur — Makassar, bukan dari Barat.
Puisi narasi biografi ini mulai dengan fase 1 Penuntut Ilmu, merantau ke tempat-tempat gudang ilmu, Aceh, Madinah, Makkah, Yaman. Fase 2, hasil perburuan ilmunya telah menyusikan pikiran dan batinnya, sufi, “… menyucikan batin/ … Menjernihkan pikiran” dan mendalami ajaran Khalwatiyah. Fase 3 adalah Pejuang, manifestasi ilmu dan amal dalam bentuk tindak “Bergelora semangat juang/Menegakkan Keadilan/Terjun ke garis depan”.
Perjuangan dan dakwah tetap berlangsung meskipun dibuang jauh dari tanah kelahiran — “Pantang menyerah/Sekalipun dipisahkan … Dibuang ke Sri Lanka/Lalu ke ujung selatan Afrika.” Bahkan di pengasingan inilah Tuanta Salamaka menjadi pemantik inspirasi seorang Nelson Mandela dalam menghayati makna kemerdekaan, kehormatan, dan kebebasan manusia.
“Ajakan, seruan kepada angkatan muda di Nusantara ini untuk meneladani jejak laku Syekh Yusuf, cerdas, berani, tegas, dan suci rohani … tidak harus menjadi seorang sufi, tetapi harus teguh, tegak kokoh mengobarkan pengabdian untuk bangsa menampilkan wajah, semangat, dan karya,” begitu paparan Prof. M. Asfah Rahman, saat membahas puisi Aspar Paturusi.
Penulis lain yang puisinya dibahas adalah Ishakim, berjudul “Impresi Tuanta Salamaka” (Bi-Barakti-l Fatihah).
Prof. M. Asfah Rahman menyebut puisi karya perupa tersebut sebagai puisi narasi sejarah, yang dibagi dua bagian atau fase. Bagian/fase 1 bercerita mulai kelahiran Tuanta Salamaka di Gowa yang tumbuh menjadi pemudayang haus ilmu (agama), bertekad berburu ilmu ke luar tanah kelahirannya, ke Banten, Aceh, Yaman, Madinah, Makkah, yang menjadikannya Yusuf Abul Mahasin Tajul Khalwati Al-Makassari. Namun, kembali Tuanta harus meninggalkan tanah kelahirannya untuk melebarkan syiar dan perlawanan terhadap kezaliman dan penindasan penjajah.
Bagian/fase 2 puisi ini menggambarkan dampak dari syiar dan perlawanan Tuanta Salamaka membuat penjajah/VOC menahannya, mengasingkannya ke Ceylon. Bahkan di Ceylon pun dakwah dan perlawanan Tuanta Salamaka lebih menggelisahkan VOC, sehingga Tuanta Salamaka diasingkan ke Afrika, tempat yang lebih jauh lagi. Bagi Tunta Salamaka, dimana bumi dipijak, disitu diluapkan jihad, ditegakkan tauhid/Suri teladan mekar harum. Keteguhan prinsip ini memberikan “… manusia pembebas … father of Islam,” dan “… panutan dua bangsa …”
“Patut kiranya ilmu-amal-tindak laku Tuanta Salamaka ditanamkan dan ditumbuhkan pada setiap generasi penerus baik melalui pendidikan formal, informal maupun nonformal,” imbuh Prof. M. Asfah Rahman mengakhiri pembahasannya. (*)

