Menulis Puisi sebagai Cara Kreatif Membangun Kesadaran Kritis Anak

Oleh: Rusdin Tompo (Penulis, dan Penggiat Sekolah Ramah Anak)

“Anak-anak hidup dan tumbuh sesuai kodratnya sendiri. Pendidikan hanya dapat merawat dan menuntun tumbuhnya kodrat itu.” [Ki Hajar Dewantara]

Belajar menulis puisi bersama anak-anak itu mengasyikkan. Walau punya tantangan berkaitan dengan perbendaharaan kata yang mereka kuasai. Jadi, bukan semata-mata hanya soal bagaimana mereka merangkai kata dan menyusunnya menjadi kalimat puitis. Tantangan lainnya, yakni bagaimana memberikan motivasi bagi mereka supaya punya kepercayaan diri. Bahwa mereka bisa menulis, bisa menulis puisi! Selanjutnya, yang perlu dijaga adalah orisinalitas karyanya.

Karya anak-anak yang dalam proses belajar itu jangan sampai diintervensi oleh pemikiran orang dewasa, orang tuanya, atau kakak-kakaknya. Tidak boleh ada tangan lain yang membantu menuliskan atau melanjutkan menyelesaikan puisi yang sedang ditulisnya. Anak-anak diwanti-wanti untuk tidak melirik karangan atau puisi temannya atau dari manapun itu. Singkatnya, mereka dilarang menyontek!

Beruntung, anak-anak terbilang jujur dan terbuka. Sehingga, mudah mengecek apakah karyanya asli atau sudah terkontaminasi. Untuk mendeteksi apakah puisinya karya sendiri atau sudah ada yang cemari, tinggal ditanyakan saja. Komunikasi dibangun diametral dengan tetap memberikan apresiasi pada upaya yang sudah dilakukan. Penghargaan terhadap anak bagian dari nilai-nilai yang dikembangkan dalam kelas minat dan bakat. Sebuah kelas inklusif, yang terbuka bagi setiap anak yang datang untuk belajar.

Itulah yang saya lakukan ketika memfasilitasi ekstra kurikuler (ekskul) di SD Negeri Borong, Kecamatan Manggala, Kota Makassar. Ekskul dengan pendekatan seni ini merupakan medium untuk membangun kesadaran kritis anak-anak. Saya mencoba menerjemahkan hak anak untuk berpartisipasi dalam kegiatan-kegiatan seni dan budaya, sebagaimana dinyatakan dalam Convention on Rights of the Child (CRC), yang sudah diratifikasi Pemerintah Republik Indonesia melalui Keppres Nomor 36 Tahun 1990.

Kegiatan pemanfaatan waktu luang seperti ini juga merupakan bagian dari upaya mewujudkan Sekolah Ramah Anak (SRA).

Dengan keterbatasan pemahaman teori dan metodologi, saya mencoba menggunakan 3 (tiga) macam seni ketika belajar bersama anak-anak, yaitu seni suara/musik, seni rupa, dan seni sastra, khususnya puisi. Saya langsung mengajak anak-anak praktik, dalam setiap kali pertemuan. Biasanya, saya memanfaatkan perayaan hari-hari besar tertentu atau peristiwa yang lagi aktual sebagai sumber ide. Misalnya, saat peringatan Hari Air Sedunia, Hari Bumi, Hari Perempuan Internasional atau saat beberapa daerah di Sulawesi Selatan dilanda bencana banjir.

Pendekatan seperti ini dilakukan dengan maksud untuk mengetahui isu apa yang anak-anak pahami terkait peringatan hari-hari besar tersebut, atau apa yang anak-anak pikirkan dan rasakan ketika air bah merendam sekeliling rumah dan sejumlah kabupaten/kota di daerahnya. Hal ini untuk menggugah rasa empati mereka pada persoalan-persoalan sosial kemanusiaan. Anak-anak juga sesekali diminta menggambar dan menulis objek tertentu, seperti kursi, tanaman, pete’-pete’, dan lain-lain untuk melatih kemampuan observasi mereka. Secara lugas mau dikatakan kepada mereka bahwa sesungguhnya apa saja bisa jadi ide tulisan dan karya seni.

Rerata mereka bisa langsung menyelesaikan karyanya, baik dalam bentuk gambar maupun puisi, berkaitan dengan tema yang diberikan. Padahal, waktunya relatif singkat, hanya sekira 1-2 jam durasi pertemuan. Kalaupun mereka kurang memahami tema yang diberikan, saya akan memberikan penjelasan singkat, dan mengajak mereka membaca buku-buku yang relevan, yang tersedia di perpustakaan sekolah. Namun, ada juga, satu-dua anak yang minta izin untuk menyelesaikan ‘tugas’ puisi yang diberikan di rumah.

Pada pertemun selanjutnya, saya akan menanyakan perkembangan puisi mereka. Begitu puisi yang sudah dibuat disodorkan, saya akan bertanya menyangkut orisinalitas karyanya. Jika anak bersangkutan mengaku bahwa puisi yang dibuatnya dibantu oleh kakak atau orang tuanya, maka saya langsung kembalikan puisi tersebut, disertai penjelasan tentang kebanggaan pada karya dan kemampuan sendiri. Alhamdulillah, anak-anak sangat berlapang dada menerima pendekatan seperti ini. Namun, ada juga yang sempat bertanya, “Kalau diambil dari Google boleh, Pak?” Dengan tegas saya jawab, “Tidak boleh!”

Sejumlah kajian menyebutkan, pembelajaran sastra di Sekolah Dasar sangat diperlukan untuk menunjang terwujudnya apresiasi dan pembelajaran bahasa secara umum, juga untuk membentuk karakter anak didik. Karena itu, yang harus terjadi dalam pembelajaran sastra ialah kegiatan apresiasi sastra bukan hanya sekadar pengetahuan teori sastra akan tetapi dibarengi dengan pengenalan atau praktik di lapangan. Hal tersebut sejalan dengan pendapat Huck (1987) bahwa pembelajaran sastra di Sekolah Dasar harus memberi pengalaman pada murid yang akan berkontribusi pada empat tujuan: (1) menumbuhkan kesenangan pada buku, (2) menginterpretasi bacaan sastra, (3) mengembangkan kesadaran bersastra, dan (4) mengembangkan apresiasi.

Dr. Asis Nojeng, M.Pd., dalam disertasinya “Kajian Nilai Syair Royong dan Relevansinya dengan Pembelajaran Muatan Lokal”, pada Program Studi Ilmu Pendidikan Bahasa Indonesia, Program Pascasarjana, Universitas Negeri Makassar (UNM), 2018, mengurai manfaat nilai sastra bagi anak. Menurut lelaki multitalenta ini, sastra dapat mengembangkan wawasan anak menjadi perilaku insan. Melalui karya sastra yang luas dapat membuat anak mengerti dunia dan alam sekitarnya. Anak dapat membayangkan dan merasakan keindahan serta dapat merasakan kesadaran mengenai kehidupan orang lain, bahkan bangsa lain sekalipun. Sastra mengembangkan imajinasi anak untuk memikirkan alam, insan, pengalaman atau gagasan dengan berbagai cara.

Sastra diakui dapat menjadi solusi bagi penanaman budi pekerti luhur untuk generasi milenial yang dikepung oleh budaya digital serba instan, informasi hoaks, ujaran kebencian, dan bahasa sarkasme penuh nyinyir. Dengarlah apa yang diwasiatkan Umar ibn Khattab kepada rakyatnya, “Ajarilah anak-anakmu sastra, karena sastra membuat anak yang pengecut menjadi jujur dan pemberani.” Menurut Aguk Irawan MN, dalam tulisannya “Ketika Sastra Alpa dari Bangku Sekolah”, sebagai refleksi Hari Pendidikan Nasional 2019, perkataan Umar itu tidak berlebihan, sebab di dalam sastra mengandung eksplorasi mengenai kebenaran universal.

Maka ikhtiar yang dilakukan di SD Negeri Borong, dengan mengajarkan dan membiasakan anak-anak menuangkan ide, gagasan, dan perasaannya dalam bentuk puisi merupakan cara kreatif dan produktif, daripada sekadar membiarkan anak-anak menulis status di media sosial, yang tak jelas ujung manfaatnya. Lewat tulisan-tulisan jujur dan sederhana itu juga kita bisa menangkap suasana batin anak-anak, kita bisa membaca bagaimana respons anak terhadap lingkungan sosialnya di sekolah, bagaimana hubungan pertemanannya, juga bagaimana penghargaan dan rasa hormat anak-anak kepada kedua orang tuanya.

Beberapa puisi dalam buku ini pengetikannya malah dilihat langsung oleh anak yang bersangkutan untuk memastikan bahwa puisinya sudah dimasukkan sebagai bagian dari naskah buku. Menariknya, pada saat peng-input-an itu, disampaikan kepada anak tersebut manakala ada kata atau kata-kata yang ditulisnya hendak diedit. Sebagai editor, saya perlu minta izin dan mendapat persetujuan dari si anak yang punya karya, sekaligus langsung memberikan penjelasan mengapa perlu sedikit koreksi atau diedit. Pengeditan biasanya berkaitan dengan alasan ekonomi kata atau soal kalimat efektif. Namun tetap menjaga kemurnian bahasa kanak-kanaknya.

Pendokumentasian dalam bentuk buku antologi puisi merupakan cara untuk mengalirkan energi positif bagi anak-anak agar lebih termotivasi lagi berkarya. Anak-anak perlu ditanamkan pentingnya pendokumentasian, pentingnya menghargai karya orang lain, apalagi karyanya sendiri. Buku ini diberi judul “Perpustakaan Baru”, karena di sanalah kebersamaan dan keakraban itu terjalin. Terdapat 105 puisi yang ditulis oleh 38 anak laki-laki dan perempuan, kelas 3-5. Perpustakaan menjadi perekat dan tempat yang tak melulu untuk singgah mencari buku dan membaca. Lebih dari itu, perpustakaan jadi living room di mana anak-anak saling berinteraksi dan berkreasi. (*)

*Pengantar Editor untuk buku “Perpustakaan Baru” Karya Bersama Murid-Murid SD Negeri Borong, Makassar, diterbitkan oleh Penerbit Garis Khatulistiwa, Makassar, Juli 2019.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Makassar SULSEL TNI / POLRI

Penimbunan Lahan Stadion Untia Mulai Terlihat, Wali Kota Munafri Target Konstruksi Awal 2027

MAKASSAR, EDELWEISNEWS.COM — Progres pembangunan Stadion Untia mulai terlihat di lapangan. Pemerintah Kota Makassar kini memaksimalkan penimbunan dan pemadatan lahan untuk mengejar target dimulainya konstruksi stadion pada awal 2027, dengan target pengerjaan satu tahun. Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, meninjau proses pembangunan Stadion Untia, di Kelurahan Untia, Kecamatan Biringkanaya yang kini sudah di tahap pekerjaan […]

Read more
Makassar SULSEL

Wakapolda Sulsel Jadi Pembina Upacara di MAN 3 Makassar, Ajak Pelajar Jauhi Tawuran dan Bijak Bermedia Sosial

MAKASSAR, EDELWEISNEWS.COM – Wakapolda Sulawesi Selatan Brigjen Pol. Dr. Gidion Arif Setyawan, S.I.K., S.H., M.Hum., melaksanakan kunjungan sekaligus bertindak sebagai Pembina Upacara Bendera di Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 3 Makassar, Senin (26/10/2026). Dalam kesempatan tersebut, Wakapolda Sulsel menyampaikan pesan kepada para pelajar agar memanfaatkan masa madrasah aliyah untuk membentuk jati diri, mengembangkan potensi, serta mempersiapkan […]

Read more
Gowa SULSEL TNI / POLRI

Kasat Lantas Bersama Kapolresta Gowa Imbau Orang Tua Lindungi Anak

GOWA, EDELWEISNEWS.COM – Kasat Lantas Polresta Gowa AKP Hasan Fadhlyh, S.H., bersama Kapolresta Gowa Kombes Pol. Dr. H. Muh. Yusuf Usman, S.H., S.I.K., M.T., CIPA, mengimbau orang tua agar mengutamakan keselamatan anak saat berkendara menggunakan sepeda motor. Imbauan tersebut disampaikan saat keduanya turun langsung mengatur arus lalu lintas dalam kegiatan strong point pagi di Jalan […]

Read more