Tallo Merupakan Spot Peradaban di Sulawesi Selatan

MAKASSAR, EDELWEISNEWS.COM – Tallo punya sejarah yang panjang dan besar. Apa yang terjadi di Tallo, pada masa lalu, mempengaruhi daerah-daerah lain di Sulawesi Selatan. Bahkan beberapa daerah, seperti Bima, ada pengaruh dari Kerajaan Tallo, terutama terkait penyebaran agama Islam.

Hal ini mengemuka dalam Diskusi Publik bertema “Menemukan Kembali Tallo: Mendorong Kampung Lama Tallo Menjadi Kampung Berbasis Wisata Sejarah dan Budaya” yang diadakan di Aula Kantor Kecamatan Tallo, Jalan Ade Irma Nasution, Senin (22 Juli 2024). Diskusi ini merupakan rangkaian kegiatan Pertunjukan Muara Sungai, Laut dan Tallo Bersejarah.

“Tallo punya sejarah yang tidak kaleng-kaleng. Namun, narasi tentang kerajaan kembar Gowa-Tallo membuat Tallo berada di bawah bayang-bayang Gowa,” terang Prof Dr Muhlis Hadrawi, SS, M.Hum.

Muhlis Hadrawi, yang merupakan Guru Besar Filologi Unhas itu memaparkan kapita jejak sejarah Tallo yang agung. Dikatakan, pada naskah Lontaraq disebut ada Pelabuhan Tua Kaluku Bodoa di zona pesisir barat Makassar. Saat itu didatangkan kapur barus dari Sumatera. Ini menandakan ada koneksitas antara Tallo dengan dunia luar.

Kisah kedatangan penyebar agama Islam di Sulawesi Selatan juga terkait dengan Tallo. Daerah ini merupakan pijakan pertama tiga datuk asal Melayu, pembawa ajaran Islam, di tahun 1605. Bontoala, kala itu, merupakan tempat pengajian Islam yang mula-mula dan menjadi scriptoria sastra kitab awal Abad XVI.

Pengajar pada Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Unhas itu menambahkan, Tallo sudah jadi kota dunia sejak Abad XVII. Tallo menjadi model zona metropolitan dan multikulturalisme sejak lama.

“Untuk menguatkan Tallo itu, maka perlu menguatkan narasinya, yakni melalui manuskrip. Karena itu perlu membuat gerakan literasi tentang Tallo,” imbuhnya.

Muhlis Hadrawi mengungkapkan, di Tallo dulu itu ada semacam festival. Pada bulan September 1660, ada pesta panen tahunan. Ditampilkan beragam pertunjukan seperti pappadendang, passempea, pallanca, pattojang, pakkenna-kenna pana, menembak bedil, permainan raga, pencak silat, penombak berkuda, sabung ayam, dan lain-lain.

Rifai, S.Pd, M.Hum sejarawan UNM, mengatakan, Tallo merupakan kerajaan maritim dan sudah punya kontak dengan luar negeri. Dikemukakan, Tallo itu sudah maju dan modern, jika kita menggunakan parameter masa itu.

Andi Syamsuryadi Daeng Bombong, SH, Gallarang Pannampu (Lembaga Dewan Majelis Hadat Tallok) mengatakan, situs-situs peningggalan Kerajaan Tallo bukan saja berada di Tallo tapi juga di Makassar dan daerah lain. Tantangan bagi peneliti dan arkeolog untuk menemukan peninggalan-peninggalan sejarah tersebut.

Ferdhiyadi N, penerima Program Fasilitasi Pemajuan Kebudayaan dari Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XIX Kemendikbudristek RI, menyampaikan bahwa dia dan teman-temannya tergerak mengadakan Pertunjukan Muara Sungai, Laut, dan Tallo Bersejarah atas dasar kepedulian. Dia berharap, upayanya ini mendapat respons positif agar bisa jadi agenda tahunan.

Acara diskusi publik ini dipandu oleh Rahmatul Yushar, guru sejarah, sedangkan penanggung jawabnya adalah Sofyan Basri. Hadir dalam acara ini antara lain, tokoh masyarakat dan warga Tallo, akademisi, mahasiswa, peserta jappa-jappa ri Tallo, dan pegiat literasi.

Sementara itu, Sekretaris Dinas Kebudayaan Kota Makassar, Dr Muhammad Fadli Tahar, mengatakan, untuk menjadikan Tallo sebagai kampung budaya, sangat dimungkinkan karena punya akar sejarah yang kuat. Tinggal butuh proses dan perlu dioptimalkan, biar jadi kebanggaan bersama.

“Tugas Pemkot Makassar memfasilitasi kegiatan yang diinisiasi warga,” kata Fadli saat membawakan materi.

Dalam pemaparannya, Fadli mengatakan bahwa Pemkot Makassar telah menyediakan anggaran dan melakukan berbagai kegiatan terkait kebudayaan. Untuk menjadi kampung budaya, perlu edukasi ke warga dan pemangku kepentingan lain, ada dukungan infrastruktur. Juga perlu promosi dan pemasaran, serta kolaborasi dengan media.

Dikatakan Pemkot Makassar menaruh perhatian besar terhadap kebudayaan. Bisa dilihat pada nomenklatur Dinas Kebudayaan yang berdiri sendiri dan penetapan Hari Kebudayaan 1 April. Juga ada penulisan dan penerbitan buku, kegiatan museum keliling, dan pembuatan film Marege.

Kegiatan even budaya, menurut Fadli, perlu diadakan karena akan memberi dampak ekonomi terhadap masyarakat. Akan menambah penghasilan warga, membuka lahan pekerjaan, dan tumbuhnya ekononi kreatif. Selain itu juga brdampak pada pemberdayaan komunitas seni budaya dan penguatan identitas lokal,

Muhlis Hadrawi mengusulkan perlu membuat suatu even besar di Tallo. Bila perlu menghidupkan kembali Benteng Tallo seperti Fort Rotterdam. Namun, membangun Tallo, tegasnya, bukan cuma merawat sejarah dan mengembangkan kegiatan budayanya tapi lebih penting dari itu adalah membangun manusianya juga. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Makassar

Pererat Silaturahmi, Warga Kompleks Prima Griya Gelar Buka Puasa Bersama

MAKASSAR, EDELWEISNEWS.COM — Semangat kebersamaan dan keberkahan bulan suci Ramadhan terasa begitu hangat di Kompleks Prima Griya, Kelurahan Bitowa, Kecamatan Manggala, Kota Makassar. Warga setempat menggelar kegiatan Buka Puasa Bersama (Bukber) yang berlangsung penuh kekeluargaan di Lapangan Prima Griya, Ahad (8/3/2026). Kegiatan ini menjadi momentum mempererat silaturahmi antarwarga sekaligus menumbuhkan semangat berbagi di bulan yang […]

Read more
Maros SULSEL TNI / POLRI

Dukung Program Swasembada Pangan Nasional, Kapolda Sulsel Hadiri Penanaman Jagung Serentak Kuartal I 2026 di Maros

MAROS, EDELWEISNEWS.COM – Kapolda Sulawesi Selatan Irjen Pol. Djuhandhani Rahardjo Puro, S.H., M.H menghadiri langsung kegiatan Penanaman Jagung Serentak Kuartal I Tahun 2026, dalam rangka mendukung program swasembada pangan nasional. Kegiatan tersebut dilaksanakan di Dusun Pangembang, Desa Pucak, Kecamatan Tompobulu, Kabupaten Maros, Sabtu (7/3/2026). Kegiatan ini merupakan bagian dari program ketahanan pangan yang dilaksanakan secara […]

Read more
Makassar SULSEL

Workshop Makrame dan Merajut di Desa Taeng: Merawat Simpul, Menenun Kebersamaan

GOWA, EDELWEISNEWS.COM – Hujan turun pelan sore itu. Rintiknya jatuh di sela atap rumah warga Desa Taeng, seolah ikut menyertai langkah-langkah para ibu yang datang satu per satu, Minggu (8 Maret 2026). .qdmMereka tidak sekadar berteduh dari cuaca yang basah. Mereka datang membawa rasa ingin tahu. Di tangan mereka belum ada benang, tetapi di kepala […]

Read more