Dari Salawat hingga Filosofi Telur Maulid, Anak-anak SDN Borong Belajar Memaknai Cinta Rasul

MAKASSAR, EDELWEISNEWS.COM – Pagi itu, halaman SD Negeri Borong, Kecamatan Manggala, Kota Makassar, tidak sekadar menjadi tempat berkumpul. Anak-anak datang membawa suasana yang berbeda.

Ada salawat yang dilantunkan, ayat suci Al-Qur’an yang dibacakan, nasyid yang dinyanyikan, hingga telur-telur Maulid yang berdiri tegak di atas batang pisang.

Semua itu menjadi bagian dari peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 H yang digelar pada Sabtu (12 September 2026), dengan tema “Cinta Rasul: Membangun Persaudaraan dalam Bingkai Moderasi Beragama.”

Namun Maulid di sekolah bukan semata-mata tentang merawat sebuah tradisi. Di ruang pendidikan seperti ini, Maulid dapat menjadi cara lain untuk mengajarkan anak membaca kehidupan: tentang keteladanan, persaudaraan, toleransi, kebersamaan, dan bagaimana menghargai budaya yang tumbuh di tengah masyarakat.

Telur Maulid, misalnya, bukan hanya telur yang dihias dan ditancapkan pada batang pisang. Di balik bentuknya yang sederhana, tersimpan simbol dan pesan yang bisa dibaca anak-anak.

Telur yang berdiri tegak mengingatkan tentang keteguhan tauhid—keyakinan kepada Allah Yang Maha Esa.

Batang pisang yang menjadi tempat menancapkan telur pun menyimpan filosofi tersendiri. Pisang adalah tanaman yang terus tumbuh dan menghasilkan buah. Ia memberi tanpa banyak bicara.

Di situlah pendidikan menemukan bahasanya sendiri.

Anak-anak tidak hanya diajak mendengar nasihat, tetapi juga belajar menemukan makna dari benda-benda yang dekat dengan kehidupan mereka.
Moderasi Beragama Dimulai dari Cara Bersaudara.

Sekretaris Komite SD Kompleks Borong, Mattawang S.Pd, menjelaskan bahwa moderasi beragama tidak berhenti pada pengertian tentang agama yang benar atau salah. Ia juga berkaitan dengan bagaimana seseorang hidup bersama orang lain.

Ada setidaknya empat indikator moderasi beragama yang diperkenalkan, yakni komitmen kebangsaan, toleransi, anti-kekerasan, dan akomodasi terhadap budaya lokal.

Empat hal itu terasa penting diperkenalkan sejak anak-anak berada di bangku sekolah dasar. Sebab, anak yang belajar menghargai temannya hari ini, kelak diharapkan tumbuh menjadi orang dewasa yang mampu menghargai perbedaan.

Anak yang terbiasa berbagi ruang dengan orang lain akan lebih mudah memahami bahwa kehidupan memang tidak selalu seragam.

Sekolah pun bukan hanya tempat anak belajar membaca, menulis, dan berhitung. Sekolah adalah ruang tempat mereka belajar menjadi manusia.
Maulid atau Maulud?

Ustaz Andi Ahmad Al-Bone, S.Pd.I, dalam ceramahnya mengajak siswa memahami istilah Maulid dan Maulud.

Maulid berkaitan dengan waktu, tempat, atau momentum memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW. Sementara maulud berarti “yang dilahirkan”.

Penjelasan sederhana itu menjadi penting karena mengenalkan sejarah dan kebudayaan Islam kepada anak dengan cara yang mudah dipahami.

Ada satu bagian yang menarik perhatian dalam peringatan Maulid di Sulawesi Selatan: telur yang ditancapkan pada batang pisang.

Telur itu bulat, rapuh, tetapi dibuat berdiri tegak berkat kreativitas. Ia seperti mengajarkan bahwa sesuatu yang tampak sederhana pun dapat membawa pesan tentang keteguhan.

Batang pisang juga bukan sekadar wadah. Ia terus bertumbuh dan menghasilkan buah. Filosofi ini dapat dibaca sebagai pengingat bahwa manusia seharusnya tumbuh dan memberi manfaat.

Begitu pula jantung pisang. Ia bisa dimaknai sebagai hati. Dari hati yang baik, semestinya lahir perkataan dan perbuatan yang baik.
Maka, ketika anak-anak melihat telur Maulid, mereka sebenarnya sedang diajak membaca sebuah simbol: teguh dalam keyakinan, terus bertumbuh, dan menghasilkan kebaikan.

Rasul sebagai Teladan

Kecintaan kepada Rasulullah SAW kemudian diarahkan pada empat sifat utama yang patut diteladani: shiddiq, amanah, tabligh, dan fathanah.

Jujur, dapat dipercaya, menyampaikan kebaikan, dan cerdas.
Nilai-nilai itu sebenarnya sangat dekat dengan kehidupan anak di sekolah.bJujur ketika mengerjakan tugas. Amanah ketika mendapat tanggung jawab.nDengan demikian, cinta Rasul tidak berhenti pada seberapa merdu seseorang melantunkan salawat. Cinta itu menemukan ukurannya dalam perilaku.

Ustaz bahkan memberikan apresiasi kepada para siswa.

“Luar biasa anak-anak. Mereka bisa melafazkan salawat dengan baik.”

Pujian tersebut bukan sekadar penghargaan atas kemampuan tampil. Di baliknya ada pesan bahwa anak-anak memiliki potensi besar ketika diberi ruang untuk belajar, berekspresi, dan tampil percaya diri.
Tiga Lingkaran Persaudaraan

Persaudaraan dalam Islam juga tidak hanya berhenti pada hubungan sesama muslim.

Ada ukhuwah Islamiyah, persaudaraan sesama umat Islam; ukhuwah wathaniyah, persaudaraan sebagai sesama anak bangsa; dan ukhuwah insaniyah atau basyariyah, persaudaraan sebagai sesama manusia.

Tiga lingkaran itu membuat tema moderasi beragama terasa lebih dekat dengan kehidupan anak. Kita boleh berbeda agama, suku, budaya, bahasa, bahkan kebiasaan. Tetapi perbedaan tidak harus menjadi alasan untuk saling menjauh. Justru karena berbeda, anak-anak perlu belajar saling menghargai.
Khidmat dan Edukatif

Rangkaian acara berlangsung dalam suasana khidmat sekaligus edukatif.

Kelas 4B membawakan lagu “Aisyah”. Farwisa dari kelas 6A membaca Al-Qur’an, dilanjutkan tilawah oleh Fahrizal dari kelas 5A. Siswa laki-laki kelas 6A dan 6B melantunkan salawat. Sementara siswa perempuan dari kedua kelas tersebut membawakan nasyid.

Ada pula tari Islami “Demi Sang Nabi” yang dibawakan siswa kelas 3A.

Rangkaian tersebut memperlihatkan bahwa pendidikan keagamaan dapat hadir dalam banyak bentuk. Ada bacaan, nyanyian, gerak, seni, ceramah, dan tentu saja pengalaman bersama.

Acara diawali oleh Bu Nisa dan Bu Elly sebagai MC, kemudian sambutan Ketua Panitia Ibu Rosmiaty, S.Pd.I, Kepala UPT SPF SD Negeri Borong, Andi Etty Cahyani, S.Pd, M.Pd, pengawas SD Kecamatan Manggala, Barliang, S.Pd.

Perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW ini dihadiri oleh Ketua Kelompok Kerja Kepala Sekolah (K3S), Hj Rosmiati S.Pd., M.Pd, Ketua Komite SD Kompleks Borong, Drs H Marzuki, Kepala SD Inpres Borong, Dr Sari Bulan S.Pd.,M.Pd, dan sejumlah orangtua siswa.

Anak-anak berpartisipasi dan tampil mengekspresikan potensi dirinya.
Mereka membaca, melantunkan salawat, bernyanyi dalam nada dan pesan yang islami.

Maulid akhirnya tidak hanya berbicara tentang kelahiran seorang Nabi lebih dari empat belas abad silam. Namun sebuah proses dan pendekatan belajar nilai-nilai agama dengan cara yang lebih dekat pada kehidupan anak-anak.

Di SD Negeri Borong, pelajaran itu dimulai dengan cara yang sederhana: dari salawat yang dilantunkan bersama, dari telur yang berdiri tegak di atas batang pisang, dari tangan-tangan kecil yang belajar berbagi, dan dari anak-anak yang perlahan memahami bahwa persaudaraan adalah bagian penting dari cinta kepada Rasul. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Makassar SULSEL TNI / POLRI

Pangdam XIV/Hsn Tegaskan BMN Tak Boleh Salah Kelola, Harus Tertib dan Akuntabel

MAKASSAR, EDELWEISNEWS.COM – Kepala Staf Kodam (Kasdam) XIV/Hasanuddin Brigjen TNI Ayi Lesmana, S.E menerima sekaligus membuka kegiatan Satgas Penatausahaan Pemanfaatan Barang Milik Negara (BMN) di Lingkungan Unit Organisasi Kementerian Pertahanan (Kemhan) dan TNI Sesi III tahun 2026 di Wilayah Kodam XIV/Hsn. Satgas ini dipimpin oleh Inspektur I Inspektorat Jenderal (Itjen) Kemhan, Brigjen TNI Heru Purwanto, […]

Read more
Makassar SULSEL

Pasar Pabaeng Baeng Makassar Bakal Disulap Jadi Venue Festival Pasar Rakyat

MAKASSAR, EDELWEISNEW.COM – Pasar Pabaeng Baeng, Makassar, bakal tampil berbeda pada November mendatang. Adira Finance bersama Sokoguru Media UMKM Indonesia akan menggelar Festival Pasar Rakyat selama dua hari dengan menghadirkan berbagai kegiatan untuk pedagang dan masyarakat. Direktur Utama Perumda Pasar Makassar, Ali Gauli Arief, menyambut positif rencana tersebut. Menurutnya, kegiatan ini menjadi momentum untuk menghidupkan […]

Read more
Makassar SULSEL

Sekitar 3 Juta Liter Air Didistribusikan, BPBD Makassar Jangkau 92.931 Jiwa di Tengah Darurat Kekeringan

MAKASSAR, EDELWEISNEWS.COM – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Makassar terus memperkuat respons terhadap dampak kekeringan melalui operasi distribusi air bersih bagi masyarakat. Hingga pembaruan data terakhir, sebanyak 3.043.800 liter air telah disalurkan ke berbagai wilayah yang membutuhkan, Selasa (15 September 2026). Distribusi tersebut menjangkau 310 titik, dengan dukungan 25 kendaraan operasional yang telah melaksanakan […]

Read more