MAKASSAR, EDELWEISNEWS.COM -.Di tengah hutan Busang–Long Nyelong, sebuah sekolah sederhana menyimpan pelajaran yang tak selalu ditemukan dalam kurikulum. Dari tempat itulah Musakkir Basri merangkai catatan perjalanan seorang guru dalam buku Sekolah Tanpa Warna, terbitan KALIPUSTAKA.
Pendidikan kerap dipamerkan melalui angka-angka, gedung-gedung megah, ruang kelas yang nyaman, dan teknologi yang terus diperbarui. Di atas meja perumusan kebijakan, pendidikan menjelma menjadi kurikulum, nilai, akreditasi, dan laporan tahunan. Namun, jauh dari pusat kota, di antara jalan berlumpur dan rimbun hutan Kalimantan Timur, pendidikan memiliki wajah yang berbeda. Wajah anak-anak yang berangkat ke sekolah dengan segala keterbatasan, orang tua yang menggantungkan harapan pada masa depan anaknya, dan guru-guru yang memilih bertahan meski keberadaan mereka jarang menjadi perhatian.
Dari ruang kehidupan semacam itulah Sekolah Tanpa Warna menemukan pijakannya.
Buku karya Musakkir Basri yang diterbitkan oleh KALIPUSTAKA ini bukan sekadar catatan tentang sekolah di pedalaman. Ia adalah upaya merekam kehidupan pendidikan dari jarak yang dekat: dari ruang kelas berdinding kayu, lantai papan yang berderit ketika dipijak, hingga atap yang menyisakan celah saat hujan turun. Sebuah sekolah di Busang–Long Nyelong, Kalimantan Timur, yang mungkin tidak banyak dikenal, tetapi menyimpan cerita tentang manusia, harapan, dan keteguhan untuk terus belajar.
Di tempat yang jauh dari sorotan itu, kemegahan pendidikan tidak hadir melalui bangunan atau fasilitas. Ia tumbuh dari keberanian seorang anak untuk tetap bersekolah, dari orang tua yang bekerja tanpa mengenal lelah, dan dari guru yang tetap membuka pintu kelas setiap pagi.
Musakkir tidak datang ke pedalaman semata-mata untuk mengajar. Sebagaimana banyak guru yang memulai perjalanan dengan keyakinan bahwa dirinya akan membawa pengetahuan kepada murid-murid, ia pun memiliki harapan yang sama. Namun, waktu perlahan membalik cara pandangnya. Anak-anak di Long Nyelong justru mengajarkan kepadanya hal-hal yang tidak selalu dapat dijelaskan melalui buku pelajaran: kesabaran, ketulusan, kejujuran, dan arti bertahan di tengah keterbatasan.
Di sanalah pendidikan menemukan maknanya yang lebih manusiawi. Guru tidak lagi berdiri sebagai satu-satunya sumber pengetahuan. Ia juga seorang pembelajar yang tumbuh melalui perjumpaan dengan murid-muridnya.
Ketika Jalan Berlumpur Menjadi Bagian dari Pendidikan
Di pedalaman, perjalanan menuju sekolah bukan selalu perkara jarak. Ada jalan yang berlumpur setelah hujan, ada bus sekolah yang harus dikejar, dan ada hari-hari ketika seorang anak tidak sampai di ruang kelas karena tertinggal kendaraan. Peristiwa-peristiwa semacam itu mungkin terlihat sederhana bagi mereka yang hidup di tengah kemudahan akses. Namun, bagi anak-anak di wilayah terpencil, hal tersebut dapat menentukan apakah hari itu mereka memperoleh kesempatan belajar atau tidak.
Kehadiran bus sekolah memang menjadi bagian penting dari upaya membuka akses pendidikan. Akan tetapi, keberadaan fasilitas saja belum selalu menjawab seluruh persoalan. Di baliknya masih ada kondisi jalan, ketepatan waktu, jarak tempuh, dan berbagai keadaan yang tidak selalu dapat dikendalikan oleh anak-anak.
Di titik ini, Sekolah Tanpa Warna mengajak pembaca melihat pendidikan dari sisi yang kerap terlewatkan. Persoalan pendidikan tidak cukup dipahami melalui kebijakan yang tertulis di atas kertas. Ia harus dibaca melalui pengalaman mereka yang menjalani pendidikan setiap hari.
Anak-anak pedalaman bukan tokoh pelengkap dalam cerita pembangunan. Mereka bukan pula objek yang semata-mata dihadirkan untuk membangkitkan rasa iba. Mereka adalah manusia yang memiliki hak, cita-cita, dan kemampuan untuk menentukan masa depan. Keterbatasan yang mereka hadapi tidak semestinya dijadikan alasan untuk meromantisasi penderitaan, apalagi membiarkan ketimpangan berlangsung tanpa perubahan.
Justru karena mereka memiliki hak yang sama, pendidikan di pedalaman perlu dibicarakan dengan lebih jujur. Bukan hanya tentang ketabahan anak-anak dan pengabdian guru, melainkan juga tentang tanggung jawab bersama untuk menghadirkan kesempatan belajar yang setara.
Catatan Seorang Guru, Bukan Cerita yang Menggurui
Kekuatan Sekolah Tanpa Warna terletak pada keberangkatannya dari pengalaman. Musakkir tidak berpretensi menghadirkan jawaban atas seluruh persoalan pendidikan Indonesia. Ia menempatkan tulisannya sebagai catatan kecil tentang apa yang dilihat, didengar, dirasakan, dan dipelajari selama berada di sebuah desa yang mungkin tidak pernah tercantum dalam berita utama.
Pilihan itu membuat pengalaman personal menjadi pintu masuk untuk membicarakan persoalan yang lebih luas. Sekolah sederhana di Long Nyelong tidak berdiri sebagai kisah yang terpisah dari kehidupan bangsa. Ia menjadi cermin bagi pertanyaan yang lebih mendasar: sejauh mana pendidikan benar-benar hadir bagi setiap anak, tanpa memandang tempat kelahirannya?
Bagi Musakkir, kritik terhadap pendidikan lahir dari kecintaan terhadap pendidikan itu sendiri. Kegelisahan bukan ditujukan untuk menyalahkan satu pihak, melainkan untuk mengingatkan bahwa masih ada pengalaman yang perlu didengar dan keadaan yang perlu diperbaiki.
Dalam pengertian itu, buku ini tidak hanya berbicara tentang sekolah sebagai institusi. Ia berbicara tentang pendidikan sebagai perjumpaan antara harapan dan kemanusiaan. Tentang guru yang memilih hadir ketika fasilitas tidak berpihak kepadanya. Tentang orang tua yang terus bekerja agar anak-anaknya dapat belajar. Dan tentang murid-murid yang tetap menyimpan keinginan untuk tumbuh, sekalipun jalan menuju sekolah tidak selalu mudah.
Dunia memang berubah tanpa permisi. Pendidikan pun terus bergerak, berganti pendekatan, kurikulum, dan kebijakan. Namun, di tengah perubahan itu, ada sesuatu yang tidak boleh kehilangan tempat: manusia yang menjadi alasan mengapa pendidikan diselenggarakan.
Merawat Harapan dari Ruang Kelas Kecil
Ada keyakinan yang terus dirawat Musakkir melalui catatan perjalanannya: perubahan besar tidak selalu bermula dari tempat yang besar. Terkadang, perubahan tumbuh diam-diam dari sebuah ruang kelas kecil di tengah hutan, dari buku yang telah lusuh, atau dari seorang guru yang tetap membuka pintu kelas meskipun kehadiran murid-muridnya tidak selalu dapat dipastikan.
Harapan semacam itu tidak selalu datang dengan suara lantang. Ia kerap tumbuh dalam kesunyian, melalui pekerjaan-pekerjaan kecil yang dilakukan berulang kali. Seorang guru mengajar. Seorang anak mencoba memahami pelajaran. Orang tua kembali bekerja. Esok pagi, pintu sekolah dibuka lagi.
Dari peristiwa yang tampak biasa itulah pendidikan terus memperoleh alasan untuk bertahan.
Buku ini dipersembahkan kepada para guru yang mengajar jauh dari sorotan dan anak-anak yang tetap percaya bahwa pendidikan dapat mengubah masa depan. Ia juga ditujukan kepada siapa pun yang meyakini bahwa ilmu pengetahuan merupakan salah satu jalan paling sunyi sekaligus paling mulia dalam memanusiakan manusia.
Di antara dedikasi itu, Musakkir menyelipkan ungkapan terima kasih kepada istrinya, Nur ‘Ain, dan buah hatinya, Sophia Sarasvati. Keduanya menjadi terang yang menemaninya melewati waktu dan perjalanan. Ada harapan personal yang turut disematkan dalam pengabdian tersebut: semoga mereka dapat hidup lebih lama dan membangun rumah buku di Sekolah Anak Desa.
Harapan itu terasa sederhana, tetapi menyimpan makna yang luas. Rumah buku bukan sekadar tempat menyimpan dan membaca buku. Ia dapat menjadi ruang perjumpaan, tempat anak-anak mengenal dunia yang lebih luas, sekaligus tempat tumbuhnya keyakinan bahwa masa depan tidak seharusnya dibatasi oleh keadaan hari ini.
Kini, melalui penerbitan Sekolah Tanpa Warna oleh KALIPUSTAKA, catatan perjalanan dari pedalaman Kalimantan Timur itu menemukan jalan untuk menjangkau pembaca yang lebih luas. Penulis berharap buku ini dapat menjadi jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang tumbuh dari sekolah-sekolah pedalaman. Sementara itu, penerbit berharap buku tersebut mendapat sambutan baik dan menemani perjalanan para pembacanya.
Pada akhirnya, Sekolah Tanpa Warna mengingatkan kita bahwa sekolah tidak pernah semata-mata diukur dari megahnya bangunan. Ada ukuran lain yang jauh lebih penting: seberapa besar harapan yang tumbuh di dalamnya, seberapa luas kesempatan yang diberikan kepada anak-anak, dan seberapa sungguh-sungguh pendidikan memperlakukan setiap manusia sebagai manusia.
Sebab, di tengah hutan sekalipun, harapan tetap menemukan tempat untuk tumbuh. Dan selama masih ada guru yang bersedia mengajar serta anak-anak yang percaya pada masa depan, pendidikan belum kehilangan jalannya. (*)

