Bedah Buku Biografi Ajoeba Wartabone Bahas Gagasan dan Kepemimpinan Sang Tokoh

Oleh : Rusdin Tompo (Pegiat Literasi, dan Koordinator SATUPENA Sulawesi Selatan)

Gagasan dan kepemimpinan Ajoeba Wartabone bakal dibahas dalam kegiatan Bedah Buku “Ajoeba Wartabone (1894-1957): Sekali ke Djokja Tetap ke Djokja”, di Hotel Arya Duta, Pantai Losari, Makassar, Selasa, 16 Juni 2026. Ajoeba Wartabone, merupakan pejuang, politisi, jurnalis, dan intelektual kelahiran Gorontalo, 11 Juni 1894, anak pasangan Zakaria Wartabone dan Tolangohula Kaluku. Artinya, pada bulan Juni 2026 ini, usia Ajoeba Wartabone sudah 132 tahun, bila sang tokoh masih hidup.

Prof Dr Ir H Fadel Muhammad, politikus, pengusaha, dan akademisi Indonesia akan hadir sebagai keynote speaker. Fadel Muhammad, merupakan Gubernur Gorontalo (periode 2001-2009), pernah menjadi anggota DPR RI, Wakil Ketua MPR RI, Menteri Kelautan dan Perikanan era Presiden SBY, dan merupakan Ketua Umum LAMAHU.

Buku biografi Ajoeba Wartabone ini akan menghadirkan sejumlah narasumber. Yakni, Dr Mukhlis PaEni, Ketua Dewan Pakar Memory of the World (MOW) Indonesia-UNESCO, yang juga merupakan mantan Kepala Arsip Nasional dan mantan Kepala Perpusnas RI, serta Prof Dr Jumadi, S.Pd, M.Pd, Ketua Masyarakat Sejarawan Indonesia Sulawesi Selatan dan Guru Besar UNM. Narasumber berikutnya adalah Dr Andi Suryadi Mappangara, M.Hum, penulis sejarah dan dosen Ilmu Sejarah Unhas, Eddy Thamrin (Yudhistira Sukatanya), sastrawan dan budayawan, dan Basri Amin, penulis buku dan peneliti pada Pusat Studi Dokumentasi HB Jassin.

Saya, Rusdin Tompo, dipercaya memandu acara bedah buku setebal liv+436 halaman yang diterbitkan pada bulan Agustus 2025 itu. Saya sudah menamatkan buku ini, setelah diberikan pada bulan Februari 2026 oleh Yunita Nursetia, staf HM Pulu Niode. Pulu Niode, yang merupakan cucu dari Ajoeba Wartabone. Ajoeba Wartabone adalah abang dari Nani Wartabone, pejuang dan Pahlawan Nasional asal Gorontalo.

Ajoeba Wartabone mengenyam pendidikan tingkat ELS (Europeesche Lagereschool) di Gorontalo dan HS (Hoofdenschool) di Tondano (1903-1914). Ia aktif sebagai penulis di koran Tjahaja Siang (Amurang/Manado), antara 1920-1921. Redakturnya, kala itu, HW Soemolang dan AA Maramis. Menjabat sebagai Marsaoleh Limboto (1921-1924), mengikuti pendidikan Bestuursschool di Batavia (1924-1926), kemudian menjadi redaktur bulanan Pertimbangan (Manado) bersama Mr Soenarjo, Mr Iskaq Tjokrohadisoerdjo, GR Pantouw, A Durand, dan GE Dauhan, selanjutnya menjadi Jogugu di Limboto (1934-1946).

Kiprah dan kontribusi Ajoeba Wartabone semakin diperhitungkan setelah menjadi Ketua Dewan Nasional di Gorontalo (1945-1946). Pada Desember 1946, pria yang dikenal rapi dan suka memakai dasi dan topi ini mengikuti Konferensi Denpasar, yang menjadi cikal bakal lahirnya Negara Indonesia Timur (NIT), bentukan Hubertus Johannes van Mook, Gubernur Jenderal Hindia Belanda (1942-1948). NIT beribu kota di Makassar. Selama menjadi anggota Parlemen NIT (1947-1949), Ajoeba Wartabone tergabung dalam Fraksi Progresif. Di tahun 1947, dalam sebuah rapat pemandangan umum Parlemen NIT, Ajoeba Wartabone mengucapkan pekik terkenal “Sekali ke Djokja tetap ke Djokja”, yang membuktikan bahwa ia seorang republiken dan nasionalis tulen.

Lini masa sejarah mencatat, pada 4 November 1947, Ajoeba Wartabone mendapat amanah sebagai Ketua Dewan Gorontalo. Momen historis dalam perjalanan hidupnya dan perjalanan bangs ini terjadi ketika ia menjadi bagian dari Goodwill Missie Parlemen NIT pada 16 Februari sampai 10 Maret 1948. Selama lawatan ke Yogyakarta, Jakarta, dan Jawa Timur itu, utusan parlemen NIT berjumpa dan menemui sejumlah tokoh nasional. Ajoeba Wartabone dkk bahkan bertemu dengan Presiden Ir Soekarno, dan Wapres Mohammad Hatta, serta pemuka-pemuka republik di Yogyakarta.

Berturu-turut kepemimpinan Ajoeba Wartabone teruji. Ia pernah menjadi Kepala Daerah Sulawesi Utara (1949-1950), Kepala Pemerintahan Umum Gubernur Militer di Manado (1950-1951), anggota Dewan Pemerintahan Daerah (DPD) Partai Persatuan Indonesia Raya (PIR) (1953-1956), dan calon Gubernur Sulawesi (1956).

Ajoeba Wartabone wafat pada hari Jumat, 26 April 1957, dalam bulan Ramadhan 1376 Hijriyah. Ia dimakamkan di Desa Bubeya, Bone Bolanga, Gorontalo, di belakang Masjid Besar Suwawa. Makamnya diapit oleh makam ayahnya, Zakaria Wartabone, dan makam kakeknya, Nuku Wartabone. Ajoeba Wartabone diberi gelar adat “Ta Loo Layi a Lipu”, atau Putra Terbaik yang menjadikan negeri Gorontalo lebih menonjol dan dikenal luas. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Makassar Seni

Ahmad Anzul, dan Arsip Visual sebagai Seni Menggarami Hidup

Oleh: Rusdin Tompo (Penulis, Penggiat Literasi, dan Koordinator Satupena Sulawesi Selatan) Saya memasuki ruangan berdinding kaca, yang di depannya terdapat x-banner bertuliskan Pameran Tunggal Seni Rupa “Kampung Garam” karya Ahmad Anzul, kurator Achmad Fauzi, 19-21 Oktober 2026, Spirit Leang-Leang. Pada x-banner itu, kita bisa melihat foto Ahmad Anzul, mengenakan kaos dan ikat kepala, mirip musisi […]

Read more
Makassar SULSEL

Munafri Rangkul KAHMI, Perkuat Sinergi Cendekiawan dan Pemerintah Bangun Kota Makassar

MAKASSAR, EDELWEISNEWS.COM — Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, menghadiri Perayaan Milad ke-60 Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI) yang digelar oleh Majelis Daerah KAHMI Kota Makassar di Pantai Indah Bosowa, Sabtu (24/10/2026). Munafri menyampaikan ucapan selamat atas Milad ke-60 KAHMI, seraya berharap kolaborasi antara pemerintah dan KAHMI terus terjalin melalui dukungan, kritik ilmiah, serta masukan […]

Read more
Makassar SULSEL

Melinda Aksa Buka Pameran UMKM dan Jambore HKG PKK Makassar, Dorong Kader Lebih Berdaya dan Kreatif

MAKASSAR, EDELWEISNEWS.COM – Ketua Tim Penggerak PKK Kota Makassar, Melinda Aksa Munafri, secara resmi membuka Pameran UMKM dan Jambore dalam rangka Hari Kesatuan Gerak (HKG) PKK Kota Makassar, Jumat (23/10/2026). Kegiatan ini menjadi ruang bagi para kader untuk menunjukkan kreativitas, memperkenalkan produk unggulan wilayah, sekaligus memperkuat kebersamaan dalam gerakan pemberdayaan keluarga. Rangkaian kegiatan yang berlangsung […]

Read more