Mengenal Lebih Dekat Astrini Syamsuddin, Penulis dengan Genre Self-Help Religius

“Assalamu’alaikum, kakak… tabe, tidur maki?”

Pesan itu masuk ke nomor WhatsApp saya, Rabu, 8 April 2026, pukul 22.24. Pesan dari Astrini Syamsuddin, Founder Salapang Art Company, yang berada satu WA grup dengan saya di Komunitas Puisi (KoPi) Makassar.

Saya baru menjawabnya keesokan harinya, karena malam itu saya sudah terlelap.

Setelah saya membalas salamnya, Kamis, 9 April 2026, perempuan berhijab yang akrab disapa Rini itu mengabarkan bahwa dia baru saja merampungkan sebuah buku.

“Alhamdulillah, sudah ka nulis buku, Kak. Mau ka kasiki bukuku. Di mana bisa kubawakan ki?” Rini menyampaikan dengan antusias dalam logat Makassar.

“Titip mi di Kafe Baca, tolong kasi Pak Rusdy Embas, yang punya kafe. Nanti Jumat saya ambil di sana. Atau kalau kita mau kasi langsung, nanti hari Sabtu,” kata saya.

Kafe Baca yang saya maksud, berada di Jalan Adiyaksa Nomor 2.

Kafe yang berada di kawasan Kantor Balai Besar Guru dan Tenaga Kependidikan (BBGTK) Sulawesi Selatan itu, kerap jadi tempat saya bikin janji dengan seseorang. Sebab, lokasinya strategis, mudah dijangkau dari berbagai arah.

“Iye, Kak biar ketemu ki. Lama mi juga tidak ketemu. Ok, kakak, Sabtu aja yah. Insya Allah,” jawab Rini.

Kami kemudian bersepakat akan bertemu di Fort Rotterdam, Sabtu, 11 April 2026.

Kebetulan di sana ada kegiatan Pagelaran Seni dan Budaya Makassar 2026, yang dihelat Dinas Kebudayaan Kota Makassar, 10-12 April 2026.

Biar sekalian saya bisa melihat gelaran acara itu, selepas kegiatan di Polrestabes Makassar, Jalan Jend. Ahmad Yani.

Menurut Rini, dia butuh saran dan masukan untuk buku perdananya tersebut.

“Bagi ilmunya yah kakak guru hehehe,” candanya.

Sabtu sore, sesuai janji kami, saya ke Fort Rotterdam. Saya sempat singgah melihat-lihat sepeda onthel dari komunitas sepeda tua. Lalu memotret replika badik ukuran besar.

Saya juga melihat murid-murid SD tengah latihan Tari Gandrang Bulo di dekat area kuliner. Juga sekilas memperhatikan pelajar SMP yang latihan menari di depan panggung utama.

Setelah itu, saya bertemu Rini, yang datang dengan sekantong gorengan lengkap dengan air mineral dingin.

Dia menyerahkan bukunya, yang bersampul warna lembut. Di bawah judul buku itu tertulis “inspirasi cinta dan penemuan makna”.

Sebuah kutipan dari Buya Yahya tercetak di sana: “Aku tak lagi merindukan surga, sebab perasaan ini telah menjadi surga bagiku.”

Saya membaca beberapa lembar buku setebal lebih 150an halaman itu. Rini membahas cinta dari sudut pandang psikologi dan spiritualitas.

“Serius ta bikin buku,” puji saya.

Tak lama berselang, datang Adil Akbar, guru SMAN 10 Makassar, yang juga seorang cerpenis.

Adil Akbar, yang antologi cerpennya “Secangkir Kopi yang Berkisah” akan didiskusikan, membawakan saya fotokopian jurnal tentang “Jaringan Perdagangan dan Jaringan Islam”.

Setelah itu, bergabung Yul dan Uni, dari Komunitas Jalan Bareng Makassar. Obrolan pun mengalir seputar buku dan kepenulisan.

Saya mengomentari pengantar penulis dalam buku Rini. Dia berkisah pengalaman masa kecilnya kala mengikuti pesantren kilat di tempat pengajiannya.

Kala itu, Rini dan teman-temannya diberi games, menulis 10 nama yang dianggap penting pada lembaran kertas. Dia pun menulis nama ibu-bapaknya, saudara-saudara, dan teman-temannya.

Setelah itu, nama-nama yang ada dibuang satu demi satu. Di pengujung games, ustaznya memungut kertas-kertas yang dibuang, dan mencermatinya.

Ustaznya bertanya, “Mengapa tak ada yang menulis Allah sebagai nama yang penting dalam kehidupan kita?”

Seketika semuanya tersentak. Diam.

Pengalaman masa kecil itulah yang rupanya jadi pemantik idenya. Rini terus merenung, bertanya-tanya.

“Seorang anak polos yang merasa bersalah karena tidak bisa mencintai Tuhannya.” Begitu yang ada dalam ingatannya.

Dalam perjalanan usia, Rini diberi hidayah. Buku yang ditulisnya ini semacam hasil kontemplasi, pemadatan atas temuannya akan cinta Tuhan.

“Tak ada rindu yang lebih besar selain mencintai Allah. Tak ada cinta yang lebih besar selain mencintai Allah, begitupun kekasih-Nya.”

Buku ibu dua anak kelahiran Ujung Pandang, 25 Juni ini, layak dimiliki. Buku ini lebih dari sekadar bacaan. Boleh disebut, bukunya merupakan buku religi tetapi tidak bermuatan doktrin agama.

Rini menulis buku yang kental dengan religiusitas, yang bisa disebut sebagai buku self-help religius karena dia fokus pada praktik spiritual demi perbaikan kualitas hidup. Ada doa, zikir, healing, dan manajemen hati dengan pendekatan agama, khususnya Islam.

Rini bernama lengkap Astrini Syamsuddin, S.Pd.I, CHt, C.PS, C.Mt, C.HTc, C.IB, CPSM. Ia merupakan alumni Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah di Universitas Islam Makassar (UIM).

Pendongeng Kota Makassar, yang pernah mengajar sebagai dosen dalam Program Praktisi Mengajar Kampus Merdeka dan Wirausaha Merdeka ini, tertarik pada isu-isu pendidikan, sosial, dan perdamaian.

Ia pernah terlibat dalam berbagai gerakan kreatif, seperti Guardians of Peace V – KITA Bhinneka Tunggal Ika, dan Sahabat Cahaya Inspirasi.

Sebagai pekerja seni, Rini dikenal mumpuni di bidang koreografi tari, pelatih pentas tari, yang telah menjajal banyak panggung pertunjukan.

Ia juga sudah menorehkan sejumlah prestasi di berbagai ajang seni, mulai seni tari, film, puisi, hingga teater.

Rini berkolaborasi dengan BPBD Kota Makassar, dalam program inovasi SALAMA dan HARMONI. Yakni, gerakan edukasi untuk memberikan Hypno-Shield kepada murid-murid SD dan SMP, serta Hypnoterapy untuk warga Kota Daeng–julukan Kota Makassar.

Rini adalah seorang inisiator dan organisator. Ia mendirikan Sekolah Motivator sebagai wadah pendidikan informal bagi anak-anak putus sekolah dan remaja yang butuh bimbingan di lingkungan sekitar BTN Kodam VII/Wirabuana.

Ia merupakan Founder Kertas Seni MAN 3, dan Ketua UKM Seni dan Budaya Sembilan UIM, periode 2012-2013.

“Ilmu paling berharga ialah yang saya peroleh dari kampus kehidupan,” tulis Rini dalam bionarasi bukunya.

Salah satu perjalanan penting yang membentuk dirinya, adalah belajar di Kahfi Halide Motivator School Makassar. Tempat itu, baginya, merupakan ruang ia bertumbuh, menempa diri dalam dunia motivasi, kepemimpinan, dan pengembangan potensi diri. (*)

Oleh: Rusdin Tompo (Koordinator SATUPENA Sulawesi Selatan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Gowa SULSEL TNI / POLRI

Cegah Antrean BBM Meluber ke Jalan, Perintis Presisi Polresta Gowa Intensifkan Patroli

GOWA, EDELWEISNEWS.COM – Antrean kendaraan di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) menjadi perhatian jajaran Polresta Gowa. Untuk mencegah kepadatan berkembang menjadi kemacetan dan mengganggu aktivitas masyarakat, Perintis Presisi Satuan Samapta Polresta Gowa mengintensifkan patroli kota di sejumlah SPBU dalam wilayah hukumnya, Sabtu (12/9/2026). Patroli dilakukan dengan menyambangi lokasi-lokasi pengisian BBM yang ramai kendaraan. […]

Read more
Makassar SULSEL

Urai Antrean BBM, Pemkot Makassar Akan Berlakukan Truk dan Bus Antre Pukul 21.00–05.00 WITA

MAKASSAR, EDELWEISNEWS.COM — Pemerintah Kota Makassar bersama Pertamina menyiapkan langkah taktis untuk mengurai antrean panjang kendaraan di sejumlah SPBU yang dalam beberapa hari terakhir mulai mengganggu kelancaran aktivitas masyarakat. Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin alias Appi mengusulkan adanya pengaturan khusus bagi kendaraan besar seperti truk dan bus, dengan waktu antrean diarahkan pada malam hingga dini […]

Read more
Gowa SULSEL

Sinergi dan Kepedulian, Polresta Gowa Ikut Gerakan TNI Peduli Sampah di Pasar Minasa Maupa

GOWA, EDELWEISNEWS.COM – Kepedulian Polresta Gowa terhadap kebersihan lingkungan kembali diwujudkan melalui aksi nyata. Kapolresta Gowa Kombes Pol. Muh. Yusuf Usman, S.H., S.I.K., M.T., CIPA., bersama para PJU dan personel Polresta Gowa, turun langsung dalam Gerakan TNI Peduli Sampah di Pasar Minasa Maupa, Kelurahan Tompobalang, Kabupaten Gowa, Jumat (11/9/2026). Kegiatan yang diselenggarakan oleh Divisi Infanteri […]

Read more