Meraba Jalur, Menyusur Nadi Pulau dan Membaur

Oleh : Elmita Ayusyifa (Alumni Fakultas Kehutanan Unhas)

Ada begitu banyak kisah yang layak untuk dipotret dan dituliskan dari kunjungan kami ke Barrang Lompo.

Sebagai warga yang tinggal di Kota Makassar, yang bergantung setiap hari untuk berpindah dari satu tempat ke tempat lain menggunakan motor pribadi dan jarang berjalan kaki, saya bertolak dari titik itu dalam perjalanan kali ini.

Berjalan kaki, sayangnya, tidak menjadi pengalaman yang netral bagi saya kendati saya menyukainya.

Saya hidup dengan gangguan kecemasan yang membuat saya sangat mudah kewalahan oleh rangsangan indera.

Dari hal tersebut, saya memutuskan untuk menambah bumbu pada metode Transect Walk di Barrang Lompo kali ini, dengan harapan saya dapat mengulik rasa lebih dalam; saya melepas alas kaki untuk berjalan dan merasakan pulau ini dengan menajamkan indra saya semaksimal mungkin.

Transect Walk di Barrang Lompo merupakan bagian dari kegiatan PARKIR (Pojok Belajar Rakyat Kota untuk Inisiatif Inklusif dan Rendah Emisi). Kegiatan ini merupakan program WRI (World Resources Institute) Indonesia atas dukungan UKPACT.

Benar saja, berbekal indra yang dipertajam dan berimbas pada mendorong batas sensitivitas sensorik saya, membuat saya bisa merasakan pulau ini tanpa perantara, memberikan saya sebuah pengalaman yang begitu beringas dalam mengukir kesan.

Pulau ini tidak lagi hanya terlihat; ia terasa. Dan bagi saya, ini bukan sekadar pengalaman sensorik yang memekakkan kepala.

Titik kami bermula di rumah Daeng Dadi. Mengambil jalur kiri menelusuri perempatan, menelusuri nadi-nadi kecil pulau.

Permukaan jalan yang panas, jalan yang tidak rata, serpih demi serpih yang tajam; semua lapis rasa menjadi jauh lebih melelahkan. Gerakan saya melambat, saya berakhir mengamati dan menyerap berbagai hal.

Paving block banyak yang mulai mencuat, jalanan tidak rata dengan lubang di sana-sini. Selokan yang dibiarkan menganga dan siap melahap kaki-kaki yang berlari dengan sekenanya.

Di tengah itu semua, ada secercah gembira yang timbul dalam benak saya ketika menemukan jalur penuntun bagi kawan disabilitas netra.

Saya menelusuri block yang warna kuningnya nyaris tak terlihat karena tertimbun debu dan pasir. Namun, saya ditampar kenyataan begitu menelusuri balok demi baloknya. Rasanya seperti ada yang dimulai, tetapi, tak pernah benar-benar selesai.

Selain itu, saya juga mengamati akses menuju Puskesmas, sekolah, dan masjid. Jalur-jalur ini menjadi nadi utama pergerakan warga. Dilalui setiap hari, oleh semua usia tanpa tapi.

Semakin lama saya berjalan, saya jadi terpikirkan sisi lain. Apakah ruang ini benar-benar untuk semua orang?

Karena yang saya rasakan dengan kaki telanjang saya adalah: berbagai rintang yang sempat menabrak kaki saya untuk melangkah dengan nyaman dan aman.

Saya yang punya penglihatan jernih dan kaki yang lincah melangkah ke sana kemari saja menguak berbagai hambatan.

Dalam perjalanan menyusuri, kami sempat mengukur sudut kemiringan pada fasilitas-fasilitas yang menjadi jantung kehidupan pulau.

Hasilnya, sebagian besar fasilitas tersebut dapat dikategorikan sebagai fasilitas umum yang tidak aksesibel bagi penyandang disabilitas yang menggunakan alat bantu, khususnya kursi roda.

Di sini, pertanyaan saya berkembang. Jika berjalan kaki menjadi salah satu cara utama bergerak di pulau ini, apakah ruangnya benar-benar dirancang untuk semua orang?

Pengalaman tubuh saya memberi jawaban yang cukup jelas.

Jika bagi saya, yang hanya berjalan dalam waktu singkat, sudah terasa melelahkan dan tidak aman; maka bagi mereka yang lebih rentan, hambatan ini sudah menjadi keseharian.

Namun, dari berbagai obrolan saya dengan warga yang saya jumpai, muncul jawaban yang hampir seragam dan justru kontradiksi terhadap apa yang saya rasakan: semua tersedia tanpa kendala.

Seolah rintang yang membebani indra saya begitu ganas tidak pernah hadir dalam benak para penghuninya. Bukan karena kondisinya benar-benar ideal, melainkan karena mereka sudah terbiasa dan tidak sekalipun terbesit impi dan harap akan keadaan yang sama sekali lain.

Keterbatasan itu tidak lagi terasa sebagai hambatan, tetapi sebagai bagian dari keseharian yang diterima begitu saja dan dapat diatasi dengan kreativitas mereka dalam memanfaatkan berbagai bentuk kendaraan.

Walau terlihat cukup dan dinilai layak oleh warganya, pada akhirnya saya menyadari: nyaman itu karena warganya tak tahu bila sepatutnya mereka mendapatkan fasilitas yang lebih layak.

Mobilitas yang mereka miliki tidak sepenuhnya lahir dari kesadaran atau desain, tetapi dari keterbatasan akses karena mereka tinggal terpisah dari Kota Makassar. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Makassar SULSEL

Wali Kota Appi Perkuat UMKM Lewat KUR, PKL Hasil Penataan Kota Bisa Dapat Akses Modal Usaha

MAKASSAR, EDELWEISNEWS.COM — Pemerintah Kota Makassar terus memperkuat komitmennya dalam mendorong pertumbuhan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) melalui perluasan akses pembiayaan usaha. Salah satu langkah yang dilakukan adalah memperkuat kolaborasi dengan sektor perbankan melalui penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) bagi pelaku usaha, termasuk pedagang kaki lima (PKL) yang direlokasi atau terdampak penataan kawasan kota. […]

Read more
Makassar SULSEL

Pendekatan Humanis, Pedagang Kelapa di Kawasan Rotterdam Difasilitasi di Pasar Kampung Baru

MAKASSAR, EDELWEISNEWS.COM — Pemerintah Kota Makassar terus mendorong penataan kawasan strategis kota dengan mengedepankan pendekatan humanis dan solusi bagi pedagang UMKM. Salah satunya melalui rencana relokasi pedagang kelapa muda yang selama ini berjualan di sekitar kawasan Benteng Fort Rotterdam dan sekitar kantor RRI, Kelurahan Bulo Gading, Kecamatan Ujung Pandang. Direktur Operasional Perumda Pasar Makassar Raya, […]

Read more
Gowa SULSEL

Sambut HUT Bhayangkara ke-80, Sidokkes Polres Gowa Gelar Sunat Gratis untuk Masyarakat

GOWA, EDELWEISNEWS.COM -.Dalam rangka menyambut Hari Ulang Tahun (HUT) Bhayangkara ke-80, Seksi Kedokteran dan Kesehatan (Sidokkes) Polres Gowa menggelar kegiatan bakti kesehatan berupa layanan sunat gratis bagi masyarakat, Kamis (11/6/2026). Kegiatan sosial ini dilaksanakan di Klinik Wira Bhayangkara Medika Polres Gowa setiap hari Senin dan Kamis selama bulan Juni, mulai pukul 09.30 WITA hingga selesai. […]

Read more