
BULUKUMBA, EDELWEISNEWS.COM – Teror tak menyurutkan langkah SSB Batugarumbing. Sanggar Seni Budaya desa ini menjadi sasaran setelah lantang menyeret isu “Desa Tanpa Solusi, Pemuda Bontonyeleng Merespon Agustus Tanpa Dana Desa.”
Di balik perayaan dan gegap gempita Agustus, ada luka yang dibiarkan menganga: pemuda yang menuntut transparansi justru dibungkam dengan cara licik. Mereka diserang bukan lewat dialog, melainkan melalui teror psikologis dan pembunuhan karakter.

Muh. Alif Dermawan, Ketua Umum Batugarumbing, bersuara getir.
“Terkadang bingung ketika memberanikan diri jadi orang beda di tengah perbedaan lainnya. Giliran kami bergerak malah dilihat pengganggu. Pemerintah terjebak dalam sistem yang kaku. Saya bukan orang bersekolah tinggi, tapi apakah berpikir beda harus selalu dicap melawan?”
Sebuah pesan teror beredar usai mereka menyinggung dana desa.
“Jangan langsung diangkat di media guys, tidak mungkin dikasih dana kalau tidak ada proposalmu dari tahun lalu. Karena itu kegiatan harus ada di rkpdes bru bisa dianggarkan,” ungkap seorang aparat desa yang enggan disebutkan namanya.
Jawaban semacam ini justru menyingkap borok yang lebih dalam, birokrasi yang menutup pintu dialog, pemerintah desa yang lupa pada fungsinya sebagai pengayom, bukan penguasa. Dimana transparansi? Dimana hak pemuda atas dana kepemudaan yang semestinya ada?
Teror boleh datang, stigma boleh dilempar, tetapi suara pemuda tak bisa dipenjara. Agustus bukan hanya tentang bendera yang dikibarkan, melainkan tentang keberanian generasi muda menuntut haknya.
“Wajar saja jika pemuda mencari haknya. Wajar saja jika pemuda merespon Agustus dengan cara berbeda,” tegas Alif.
SSB Batugarumbing sudah bicara: mereka tidak takut. (*)