Tingkatkan Kualitas Perpustakaan, Anggota DPRD Parepare Kunjungi Dinas Perpustakaan Makassar

MAKASSAR, EDELWEISNEWS.COM – Sembilan anggota DPRD Kota Parepare didampingi staf melakukan kunjungan kerja ke Dinas Perpustakaan Kota Makassar, Kamis (17/9/2021). Kunjungan diterima langsung Kepala Dinas Perpustakaan Kota Makassar, Tenri A Palallo beserta Sekretaris Dinas, I Nyoman Aria Purnabhawa, Kabid Layanan, Fadli Tahar, Kabid Pengembangan Perpustakaan, Thato Amran Kudus, Kasi Pengembangan Perpustakaan, Andika Cahyadi, Kasi Pengembangan Pembudayaan Kegemaran Membaca, Fadly Nur dan Pustakawan, Tulus Wulan Juni di ruang rapat Dinas Perpustakaan Kota Makassar.

Kunjungan kerja anggota DPRD dari Komisi I Kota Parepare yang dipimpin Wakil Ketua DPRD, M. Rahmat Sjamsu Alam bertujuan untuk berkonsultasi terkait peningkatan kualitas perpustakaan dalam meningkatkan mutu layanan dan minat baca di Dinas Perpustakaan Kota Makassar dan Kantor DPRD Provinsi Sulawesi Selatan.

Hal tersebut disampaikan Wakil Ketua DPRD saat memberikan kata pengantar kunjungan. “Kehadiran kami juga ingin menambah wawasan dalam upaya meningkatkan kualitas mutu layanan dan minat baca,” ungkap Rahmat.

Kepala Dinas Perpustakaan Kota Makassar, Tenri A Palallo mengucapkan terima kasih atas kunjungan ke Dinas Perpustakaan. Selanjutnya memberi pengantar diskusi dengan menampilkan beberapa slide capaian Dinas Perpustakaan Kota Makassar beserta tanggung jawab Dinas Perpustakaan dalam membina semua jenis perpustakaan yang ada di Kota Makassar.

“Alhamdulillah, saya masih sebulan lebih disini tapi sudah banyak prestasi, dan prestasi tersebut akan kami tingkatkan dan pertahankan. Kami pun ke depan akan menambah cakupan binaan khususnya Perpustakaan Khusus Instansi (pemerintah dan swasta) dan Perpustakaan Komunitas yang dikelola masyarakat,” papar Tenri di hadapan anggota DPRD.

Salah satu anggota DPRD dari PDIP mengapresiasi prestasi Dinas Perpustakaan Kota Makassar terkait banyaknya inovasi. “Dinas Perpustakaan Kota Makassar belum punya gedung tersendiri tapi sudah banyak inovasinya, bagaimana kalau nanti punya gedung layanan tersendiri bisa tambah banyak lagi inovasinya,” ungkap Satriya memuji.

Saat diskusi anggota DPRD juga meminta pandangan kepada Dinas Perpustakaan Kota Makassar tentang naskah Perda-perda yang dikeluarkan oleh DPRD, apakah bisa dibukukan sebagai koleksi perpustakaan. Menurutnya masyarakat perlu juga membaca peraturan-peraturan daerahnya selain buku-buku. Dan kalau bisa jangan ditempatkan di ruangan khusus bersama buku referensi, kalau bisa dengan buku bacaan dan dibuatkan juga versi e-booknya.

Pustakawan Dinas Perpustakaan Kota Makassar, Tulus Wulan Juni menyambut baik saran dan masukan anggota DPRD terkait perda-perda yang dibukukan.

“Koleksi peraturan daerah menjadi salah satu local content sebuah perpustakaan. Perpustakaan khusus DPRD mempunyai tugas menghimpun dan mengolahnya agar bisa menjadi buku. Setelah menjadi buku dapat disebarkan ke perpustakaan untuk dilayankan ke masyarakat, salah satunya ke Perpustakaan Umum. Untuk penempatan area koleksi perda memang selama ini masuk di area koleksi khusus buku-buku referensi. Namun jika dikemas/ ditulis berbeda dengan menambahkan ilustrasi sebagai bentuk sosialisasi,.maka bisa ditempatkan di area umum berdasarkan subyeknya seperti ilmu sosial dan sebagainya,” terang Tulus.

Diskusi merambah juga ke layanan Perpustakaan Digital dan pembudayaan kegemaran membaca di era teknologi dan Pandemi Covid – 19. Dinas Perpustakaan Kota Makassar memberikan contoh penerapannya, yakni untuk layanan perpustakaan dengan membuat aplikasi perpustakaan digital e-Pustaka Kota Makassar, dan untuk pembinaan kegemaran membaca dengan membuat program di media sosial/ online yakni salah satunya program DONGKELOR (Dongeng Keliling Online dari Rumah).

Suasana diskusi diwarnai canda dan tawa anggota DPRD dan segenap jajaran Dinas Perpustakaan dengan tetap mematuhi protokol kesehatan.

Kunjungan anggota DPRD dari Kota Parepare ke Dinas Perpustakaan Kota Makassar ternyata kunjungan ketiga kalinya. Kota Parepare banyak belajar dari Kota Makassar, khususnya terkait meminta pandangan tentang pengembangan perpustakaan dan Pembudayaan Kegemaran Membaca.

Salah satu hasil kunjungannya ke Kota Makassar telah melahirkan Perda tentang Perpustakaan dan Kearsipan di Kota Pare-Pare. Anggota DPRD Komisi I yang hadir kali ini selain Wakil Ketua adalah Indria Sari Husni, Asmawati, Kaharuddin Kadir, Satriya, Ibrahim Suanda, Yangsmid Rahman, Hermanto dan Muhammad Yusuf Lappanna.(TWJ)

Editor : Jesi Heny

| Dinas Perpustakaan Kota Makassar selalu ingin lebih dekat dan bersahabat…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Makassar Olahraga SULSEL

IPSI Makassar Optimistis Raih Prestasi di Porprov Sulsel XVIII, 19 Atlet Siap Bertarung

MAKASSAR, EDELWEISNEWS.COM — Kontingen Cabang Olahraga (Cabor) Pencak Silat Kota Makassar siap mengharumkan nama daerah pada ajang Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Sulawesi Selatan XVIII 2026 yang berlangsung di Kabupaten Wajo dan Bone, 7–14 November 2026. Melalui Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) Kota Makassar, sebanyak 19 atlet terbaik dipersiapkan untuk berlaga pada 13 nomor pertandingan. Kontingen […]

Read more
Makassar SULSEL

Wali Kota Munafri Ajak Gojek Jadi Pelopor Tertib Berlalu Lintas di Makassar

MAKASSAR, EDELWEIS.COM – Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, meminta Gojek ikut mengambil peran aktif dalam mengkampanyekan tertib berlalu lintas, khususnya melalui edukasi kepada para mitra pengemudi. Hal tersebut disampaikan Munafri saat menerima audiensi jajaran Gojek yang dipimpin Vice President Operations Gojek, Gede Manggala, di Rumah Jabatan (Rujab) Wali Kota Makassar, Jumat (6/11/2026). Munafri berharap Gojek […]

Read more
Artikel Makassar SULSEL

Industri Musik di Makassar : Dari WR Soepratman, Ho Eng Djie, hingga Ridwan Sau

Oleh: Rusdin Tompo (Penulis, dan Koordinator Satupena Sulawesi Selatan) Industri rekaman di Makassar memiliki sejarah yang panjang. Kita mesti melacaknya sejak aktivitas rekam-merekam musik yang diyakini sudah ada di Indonesia, khususnya di Batavia dan Surabaya, sejak zaman kolonial Belanda. Gramafon Columbia serta peralatan studio rekaman yang dibawa ke Hindia Belanda awal abad ke-20, dianggap sebagai […]

Read more