Workshop Makrame dan Merajut di Desa Taeng: Merawat Simpul, Menenun Kebersamaan

GOWA, EDELWEISNEWS.COM – Hujan turun pelan sore itu. Rintiknya jatuh di sela atap rumah warga Desa Taeng, seolah ikut menyertai langkah-langkah para ibu yang datang satu per satu, Minggu (8 Maret 2026).

.qdmMereka tidak sekadar berteduh dari cuaca yang basah. Mereka datang membawa rasa ingin tahu. Di tangan mereka belum ada benang, tetapi di kepala sudah ada banyak pertanyaan tentang satu hal: makrame dan merajut.

Pertemuan itu bermula dari rasa penasaran yang sederhana. Kursi-kursi disusun tidak terlalu rapi, tetapi cukup untuk membentuk lingkar kebersamaan. Di tengah ruang itulah simpul-simpul pertama diperkenalkan—bukan hanya simpul tali, tetapi juga simpul percakapan dan tawa yang pelan-pelan menghangatkan suasana.

Workshop Makrame dan Merajut ini merupakan bagian dari pra-rangkaian Festival Bantarang Sungai Jeneberang 2026, sebuah agenda kebudayaan yang mencoba menghadirkan ruang pertemuan antara keterampilan, ingatan, dan kehidupan masyarakat sekitar sungai. Kegiatan berlangsung pada 2–4 Maret 2026, setiap pukul 15.30 WITA di Desa Taeng, Kabupaten Gowa.

Bagi sebagian peserta, makrame terdengar seperti istilah yang jauh. Padahal pada dasarnya ia hanya perkara simpul. Namun, seperti banyak hal dalam hidup, yang tampak sederhana sering kali menyimpan kesabaran di dalamnya.

“Makrame ini gampang-gampang susah sebenarnya. Tapi kalau orang mau belajar pasti bisa, hanya saja tidak cukup dengan sehari,” ujar Lulu, fasilitator workshop makrame, sembari memperlihatkan cara membuat simpul pertama kepada peserta.

Tali-tali yang semula hanya berupa benang panjang mulai berubah menjadi pola. Tangan-tangan yang awalnya kaku perlahan menemukan ritmenya sendiri. Ada yang masih ragu, ada yang tertawa karena simpulnya terlepas, dan ada pula yang diam-diam mulai menikmati prosesnya.

Di sisi lain ruangan, kegiatan merajut berjalan dengan tempo yang berbeda. Jarum rajut bergerak pelan, menyusuri benang demi benang seperti membaca kalimat yang panjang.

“Merajut menjadi sangat penting untuk melatih kefokusan mata dan otak. Perpaduan itu merupakan rajutan yang bakal terus dirawat dalam simpul ikatan,” kata Linda, fasilitator merajut.

Kalimat itu tidak hanya berbicara tentang teknik. Ia juga tentang bagaimana ketekunan dilatih melalui gerakan kecil yang diulang-ulang. Dalam rajutan, kesalahan tidak selalu berarti kegagalan; ia hanya bagian dari pola yang belum selesai.

Di Desa Taeng, makrame dan merajut memang belum menjadi kebiasaan yang umum. Namun justru di situlah letak pentingnya kegiatan ini. Ia hadir sebagai pengenalan—sebuah upaya kecil untuk mempertemukan masyarakat dengan bentuk keterampilan yang mungkin jarang mereka temui.

Benang-benang itu pada akhirnya tidak hanya membentuk karya. Ia juga membentuk percakapan. Dari cerita tentang anak di rumah, tentang pekerjaan sehari-hari, hingga tentang harapan agar keterampilan ini bisa terus dipelajari setelah workshop selesai.

Kegiatan ini terselenggara dengan dukungan Dana Indonesiana dan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan, yang memungkinkan ruang belajar seperti ini hadir di tengah masyarakat.

Namun bagi Rimba, yang memimpin jalannya festival, inti dari kegiatan ini bukan sekadar workshop keterampilan. Ia lebih menyerupai ruang bertumbuh.

“Semoga kegiatan ini menjadi ruang tumbuh yang terus memberi warna untuk kita berbagi bersama pada Festival Bantarang Sungai Jeneberang,” tuturnya.

Sore pun berakhir seperti ia dimulai: dengan hujan yang benar-benar reda. Tetapi di dalam ruangan itu, beberapa simpul telah selesai dibuat. Dan seperti setiap simpul yang kuat, ia tidak hanya menahan benang—ia juga menyimpan cerita tentang orang-orang yang mengikatnya bersama.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Makassar SULSEL

DLH Makassar Gencarkan Edukasi Pemilahan Sampah, Residu Saja yang Masuk TPA

MAKASSAR, EDELWEISNEWS.COM — Pemerintah Kota (Pemkot) Makassar, menghentikan secara bertahap sistem pembuangan terbuka (open dumping) di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Tamangapa, Antang. Mulai 1 Agustus 2026, TPA hanya akan menerima sampah residu, sementara sampah organik dan anorganik wajib dipilah sejak dari sumbernya untuk diolah atau didaur ulang. Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Makassar, Helmy […]

Read more
Makassar SULSEL

IPSI Kota Makassar Kirim 19 Atlet ke Kejurnas Pencak Silat Malang Championship VI

MAKASSAR, EDELWEISNEWS.COM – Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) Kota Makassar kembali menunjukkan keseriusannya dalam membina atlet berprestasi, dengan mengirimkan kontingen untuk mengikuti Kejuaraan Nasional Pencak Silat Malang Championship VI yang berlangsung pada 24–26 Juli 2026 di Kota Malang, Jawa Timur. Pada kejuaraan tingkat nasional tersebut, IPSI Kota Makassar menurunkan 19 atlet yang akan bertanding di […]

Read more
Makassar SULSEL

Adhisti Maitza Pranaya Ahmad Raih Juara I Lomba Bertutur Tingkat Kota Makassar

MAKASSAR, EDELWEISNEWS.COM– Setelah melalui rangkaian seleksi yang berlangsung selama dua hari, Lomba Bertutur Bagi Siswa SD/MI Tingkat Kota Makassar Tahun 2026 akhirnya melahirkan para juara terbaik. Grand Final yang digelar pada Selasa (21/7/2026) di Auditorium Gedung PKK Kota Makassar berlangsung meriah dan penuh semangat literasi dengan menampilkan 10 finalis terbaik hasil audisi sehari sebelumnya. Kegiatan […]

Read more