ASU PANTING : Rumah Buku SaESA Ajak Publik Menelusuri Ketakutan yang Diwariskan

MAKASSAR, EDELWEISNEWS.COM – Setelah Parakang berhasil memancing banyak percakapan tentang ketakutan yang hidup di tengah masyarakat, Rumah Buku SaESA kembali membuka Open Submission Gelar Zine dengan tema yang masih berjalan di lorong yang sama: ketakutan, mitos, dan cerita yang diwariskan tanpa pernah benar-benar diperiksa. Tema itu bernama: Asu Panting.

Keputusan ini bukan tanpa alasan. Dalam beberapa pekan terakhir, permintaan agar Open Submission kembali dibuka terus berdatangan. Seolah masih banyak cerita yang belum selesai dituliskan. Masih banyak kegelisahan yang belum sempat mendapat tempat. Dan masih banyak ketakutan yang selama ini hanya diterima sebagai warisan tanpa pernah diajak berdiskusi.

Asu Panting sendiri bukan nama yang asing dalam cerita rakyat Bugis di Sulawesi Selatan. Dalam berbagai tuturan yang beredar dari generasi ke generasi, makhluk ini digambarkan sebagai sosok gaib menyerupai serigala atau anjing buas. Ia hidup dalam cerita-cerita malam, menjadi penghuni percakapan yang sering kali lebih dipercaya daripada fakta yang bisa diperiksa.

Sebagian orang mengenalnya sebagai makhluk mistis. Sebagian lain mengenalnya sebagai cerita pengantar tidur yang terlalu serius untuk dianggap dongeng. Di antara keduanya, Asu Panting terus bertahan sebagai pustaka lisan yang belum selesai dibaca.

Tidak ada bukti ilmiah yang memastikan keberadaannya. Namun seperti banyak ketakutan lain di dunia ini, keberadaan bukanlah syarat utama agar sesuatu dapat dipercaya. Cukup diwariskan berkali-kali, maka sebuah cerita dapat hidup lebih lama daripada pengetahuan.

Karena itulah SaESA memilih tema ini. Bukan untuk membenarkan ketakutan. Bukan pula untuk menertawakan mereka yang mempercayainya. Melainkan untuk membuka ruang agar cerita-cerita lokal dapat dibicarakan kembali dengan cara yang lebih sehat: ditulis, diperdebatkan, dipertanyakan, dan dipahami.

Open Submission Gelar Zine tema Asu Panting dibuka pada 12–20 Juni 2026. Publik dipersilakan mengirimkan karya dalam berbagai bentuk, mulai dari esai, cerpen, puisi, biografi, poster, lirik, hingga catatan-catatan yang selama ini hanya tersimpan dalam kepala.

Bahkan mimpi yang belum sempat diceritakan pun diberi tempat. Bagi SaESA, cerita rakyat tidak seharusnya hanya berfungsi sebagai alat menakut-nakuti anak-anak agar cepat pulang ke rumah. Cerita juga dapat menjadi pintu masuk untuk memahami cara suatu masyarakat membangun pengetahuan, menciptakan simbol, dan merawat ingatan kolektifnya.

“Cukup kita hargai cerita di setiap da(e)rah, tetapi bukan untuk ditakuti,” Terang Sakkir selaku pengelola Gelar Zine SaESA.

Kalimat itu menjadi semacam penanda arah. Sebab terlalu banyak ketakutan diwariskan tanpa penjelasan. Terlalu banyak generasi diajarkan untuk takut sebelum diajarkan untuk memahami. Padahal pengetahuan lahir dari keberanian untuk bertanya.

Jika Parakang masih menyisakan cerita yang belum selesai, SaESA juga membuka ruang bagi siapa saja yang ingin melanjutkannya. Sebab setiap ketakutan yang dibentuk oleh pasang tau toa ta selalu menyimpan pertanyaan yang layak dicari jawabannya.

Mengapa cerita itu muncul? Siapa yang pertama kali menyebarkannya? Apa yang sedang disembunyikan atau justru dijaga oleh cerita tersebut?

Sebab hidup yang berharga bukan hanya tentang percaya. Hidup yang berharga adalah mencari. Mencari tahu apa yang berada di balik cerita. Mencari tahu mengapa suatu ketakutan bisa bertahan melintasi generasi. Dan mencari tahu mengapa kita sering kali lebih takut pada cerita daripada ketidaktahuan kita sendiri.

Melalui tema Asu Panting, SaESA kembali mengajak publik untuk menggelarkan cerita-cerita yang selama ini hanya hidup sebagai budaya tutur. Mengubah bisikan menjadi tulisan. Mengubah ketakutan menjadi pengetahuan.

Karya dapat dikirimkan melalui surat elektronik:
rumahbuku679@gmail.com

Barangkali ada cerita yang selama ini hanya berputar di kepala. Seperti banyak cerita lainnya, ia sedang menunggu seseorang untuk menuliskannya. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Makassar SULSEL

SATUPENA Sulawesi Selatan Donasikan 50 Judul Buku kepada SMA Muhammadiyah Malino

MAKASSAR, EDELWEISNEWS.COM – Rusdin Tompo, Koordinator SATUPENA Sulawesi Selatan, menyerahkan 50an judul buku kepada SMA Muhammadiyah, Malino, Kabupaten Gowa, Sabtu (26 Juli 2026). Buku-buku itu diterima oleh Nur Rahmah dan Nur Salam, siswa kelas XI, di Villa Masagena 3, Batulapisi. Kepala SMA Muhammadiyah, Malino, Surga Yanti, S.Pd.I, M.Pd mengucapkan terima kasih atas bantuan buku-buku yang […]

Read more
Makassar SULSEL

Dampingi Tim Verifikasi, Appi Optimistis Kelurahan Gunung Sari Wakili Sulsel ke Tingkat Nasional

MAKASSAR, EDELWEISNEWS.COM — Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, menyambut tim verifikasi lapangan Lomba Desa dan Kelurahan Tingkat Provinsi Sulawesi Selatan di Aula Poltekes, Kelurahan Gunung Sari, Kecamatan Rappocini, Senin (27/7/2026). Rombongan tim verifikasi lapangan dipimpin oleh Ketua Tim Penilai Penjaringan Desa dan Kelurahan Berprestasi Provinsi Sulawesi Selatan yang juga merupakan Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa […]

Read more
Makassar SULSEL

Untuk Cetak Talenta Digital dan Technopreneur Muda, Komdigi Siap Kolaborasi di MCH Nusantara

MAKASSAR, EDELWEISNEWS.COM — Makassar Creative Hub (MCH) Nabuka Nusantara tak hanya disiapkan sebagai ruang berkumpul dan berekspresi bagi anak muda, tetapi juga diarahkan menjadi wadah pengembangan ekonomi kreatif dan technopreneurship di Kota Makassar. Hal tersebut disampaikan Direktur Pengembangan Ekosistem Digital Direktorat Jenderal Ekosistem Digital Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) RI, Rama Krisna Prasetya, saat menghadiri […]

Read more