MAKASSAR, EDELWEISNEWS.COM – Dr Sri Gusty, ST, MT memotivasi murid-murid SD Negeri Tanggul Patompo 2 Makassar rutin menulis metode journaling. Pembiasaan itu, menurut dosen Jurusan Teknik Sipil, Politeknik Negeri Ujung Pandang (PNUP) tersebut, bisa jadi pemantik anak-anak menemukan ide menulis buku.
“Kalau bisa, sebelum tamat dari sekolah ini, anak-anak sudah punya buku. Bisa itu buku karya sendiri, atau karya bersama teman-teman,” kata Sri Gusty memberi semangat.

Sri Gusty hadir di sekolah yang beralamat di Jalan Opu Dg Risadju No. 383 Makassar itu, dalam kegiatan Inspirasi Literasi bertema: Maju dengan Membaca Buku, yang diadakan pada Jumat, 11 September 2026. Kegiatan yang diikuti murid-murid kelas 5 dan kelas 6 ini merupakan bagian dari penguatan Gerakan Literasi Sekolah, sekaligus dalam rangka Hari Kunjung Perpustakaan.
Kehadiran Sri Gusty berbagi inspirasi merupakan bentuk Pengabdian pada Masyarakat. Sebelum memberikan tips menulis Journaling atau catatan harian, dia mengajak anak-anak rajin ke perpustakaan untuk membaca buku.
Katanya, di perpustakaan banyak yang bisa dilakukan. Selain membaca, menulis, dan berdiskusi, bisa juga dimanfaatkan untuk membuat karya, atau berlatih seni. Ini selaras dengan program inovasi sekolah yang diberi nama Parkir Buku.

Sri Gusty kemudian memberikan resep agar anak-anak nanti bisa punya buku. Caranya, rajin melakukan pencatatan dan dokumentasi kegiatan, bisa diary atau journaling.
“Orang-orang sukses kebanyakan membuat journaling. Mereka melakukan pencatatan,” katanya meyakinkan.
Diary adalah buku khusus untuk mencatat kegiatan, pengalaman, pikiran serta perasaan. Catatan harian ini biasanya jadi tempat curhat.
Sedangkan, journaling merupakan kegiatan rutin menulis, merefleksikan diri, memproses emosi, menetapkan tujuan, dan melacak aktivitas. Jadi yang punya jurnal akan melihat kembali suatu peristiwa dan pelajaran apa yang bisa diambil.
“Rumus yang saya gunakan itu 3, 6, 9,” kata Sri Gusty, sembari meminta anak-anak nanti coba mempraktikkannya.
Disampaikan, yang dimaksud 3 itu adalah tiga hal utama yang akan dikerjakan. Kalau bangun pagi, katanya, tulis 3 hal atau target apa yang mau dilakukan pada hari itu.
Ada anak yang langsung menjawab, “Menghapal perkalian, praktik IPAS, dan sholat Jumat.”
Kalau 6 itu, maksud enam kegiatan yang akan dilakukan. Misalnya ke sekolah, ikuti kegiatan literasi, mengaji, membantu ibu, membuat PR, dan main game.
Di bagian 9 ini, nanti dilihat pada malam hari. Jadi harus ada 3 hal utama yang dilakukan hari ini, yang mesti terlaksana. Ini cara membangun disiplin, dan pembiasaan.
Sri Gusty lagi-lagi memotivasi anak menulis, nanti cerita-cerita yang menarik, bisa dikumpulkan menjadi buku. Salain sebagai akademisi, Sri Gusty juga produktif menulis buku, dan merupakan owner penerbit Arsy Media.
Selanjutnya dia memberikan resep menulis jurnals yang kedua, dengan rumus 3, 2, 1. Maksudnya, apa 3 hal yang mau diketahui hari ini.
Contohnya, mau tahu tentang macam-macam hewan peliharaan, mau tahu tentang literasi, juga mau mengetahui soal kelangkaan gas melon.
Nanti materinya dicari di perpustakaan, atau sumber informasi lainnya. Dari 3 yang mau diketahui, nanti mengerucut menjadi 2 yang paling menarik, kemudian tersisa hanya 1 yang mau diketahui.
Bentuk tulisannya bisa berupa cerpen, cerita, buku mini, puisi atau bentuk lainnya.
“Ini merupakan salah satu cara bagaimana menemukan ide,” imbuhnya.
Kegiatan yang diadakan dalam rangka Hari Kunjung Perpustakaan dan Bulan Gemar Membaca itu, dihadiri Rusdin Tompo, penulis dan penggiat literasi, serta beberapa guru SD Negeri Tanggul Patompo 2.
Kepala UPT SPF SD Negeri Tanggul Patompo 2, Hj Nahidha Mallapiang, S.Pd, M.Pd, menyampaikan bahwa penguatan literasi baca tulis penting dilakukan bagi anak-anak sejak dini agar tumbuh semangat belajar dan terbangun kesadaran kritis mereka.
Sekolahnya, jelas Nahidha Mallapiang, tengah merintis program inovasi Parkir Buku, akronim dari pembelajaran kreatif melalui literasi membaca menulis berkarya bermutu. Dia kemudian memperkenalkan inovasi Parkir Buku teraebut, termasuk menyampaikan rencana mengubah ruang guru menjadi perpustakaan sekolah.
“Sejak pertama kali datang, saya lihat ada area parkir di depan kantor. Langsung saya terpikir untuk bikin perpustakaan di bekas ruang guru. Sementara ruangan guru pindah ke belakang,” papar Nahidha Mallapiang, yang diberi amanah sebagai Kepala UPT SPF SDN Tanggul Patompo 2, sejak Juni 2026 itu.
Kepala sekolah beralasan bahwa dia menempatkan posisi perpustakaan di depan supaya aksesnya mudah bagi anak-anak.
Dengan adanya perpustakaan, berarti bisa bikin inovasi, anak-anak bisa membaca buku-buku cerita, atau melakukan kegiatan kreatif lainnya.
“Kalau sudah membaca, bisa bercerita, menulis, dan berkarya. Nanti anak-anak didampingi oleh penulis dan penggiat literasi, supaya bisa menghasilkan buku,” pungkas Hj. Nahidha Mallapiang. (*)

