Dr Sri Gusty Menyerahkan Tiga Judul Buku ke DPK Sulawesi Selatan

MAKASSAR, EDELWEISNEWS.COM – Undang-Undang (UU) Nomor 13 Tahun 2018 tentang Serah Simpan Karya Cetak dan Karya Rekam (KCKR) dan Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun 2021, antara lain mengatur mengenai penyerahan karya cetak kepada Perpustakaan Nasional dan Perpustakaan Provinsi.

Berkaitan dengan pelaksanaan UU KCKR itu, Dr Sri Gusty menyerahkan buku-buku terbitannya kepada Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (DPK) Provinsi Sulawesi Selatan di Jalan Sultan Alauddin, Talasalapang, Makassar, Jumat (14 Juni 2024).

Sri Gusty menyebut, ketiga buku tersebut adalah terbitan Arsy Media. Pertama, buku berjudul “Optimalisasi Kinerja Campuran Aspal Porus (Variasi Gradasi Agregat dan Pemanfaatan Limbah Oli), ditulis oleh Sri Gusty, terbit April 2024, kedua, buku berjudul “Perubahan Iklim dan Stabilitas Geoteknik” terbitan Mei 2024, yang ditulis Sri Gusty, Erick Syarifuddin, Moh. Syukran Adriansyah, Jamilah, Efrianto, dan Andi Muhammad Fajrin dan ketiga, buku berjudul “Korosi dan Perlindungan Material”, dengan penulis Sri Gusty, Muhammad Asriadi, Muhammad Idrus, Iswady, Muslika, Lilis Irjayanti Yoom, Agus Prabowo K, A.Sri Bintang Maharani, Widia Anggraeni Sunusi, Fatmeriany, dan Mutiara Mentari Putri, terbitan Mei 2024.

Menariknya, buku-buku yang ditulis itu merupakan bunga rampai sekaligus kolaborasi dengan mahasiswa. Mereka merupakan mahasiswa Program Magister Universitas Fajar (UNIFA), khususnya Magister Rekayasa Infrastruktur dan Lingkungan.

Sri Gusty yang juga merupakan Wakil Dekan Fakultas Pascasarjana UNIFA, menjelaskan, bahwa mahasiswa yang memprogramkan mata kuliah itu yang dibuatkan tema khusus.

“Jadi mereka menulis berdasarkan tugas yang diberikan, kemudian dibukukan,” terangnya.

Akademisi yang juga aktif dalam kegiatan literasi itu menyampaikan, saat berada di DPK Provinsi Sulawesi Selatan, dia berdiskusi dengan Adriani, pustakawan DPK.

Menurut Adriani, jenis buku-buku bertema lingkungan yang diserahkan itu, masih jarang dikoleksi oleh bagian deposit DPK. Buku-buku itu membahas tentang iklim dan pemanfaatan limbah.

Dia memuji keramahan Adriani sebagai pustakawan, yang mengajaknya berkeliling melihat-lihat koleksi deposit. Menarik, katanya, bila dibuatkan display khusus untuk buku-buku bertema lingkungan agar lebih memudahkan pemustaka dalam mengakses buku, dan sebagai bentuk apresiasi kepada penulis dan penerbit.

Sementara Adriani mengakui bahwa buku-buku bertema lingkungan, koleksinya memang masih kurang di DPK Provinsi Sulawesi Selatan.

Dalam UU disebutkan, tujuan serah simpan KCKR diantaranya, untuk mewujudkan dan melestarikan koleksi nasional sebagai hasil budaya bangsa dan menyelamatkan KCKR dari ancaman bahaya kemusnahan. Pelaksana serah KCKR adalah penerbit, produsen karya rekam, lembaga negara, perguruan tinggi, Pemda, DPRD. Sedangkan pelaksana simpan KCKR adalah Perpustakaan Nasional dan Perpustakaan Provinsi.

Manfaat dari kebijakan serah simpan KCKR, yaitu memudahkan dan mempercepat pengelolaan koleksi serah simpan. Juga untuk mengintegrasikan berbagai data dari aplikasi lain. Manfaat berikut, untuk mengumpulkan koleksi serah simpan dalam satu lokasi guna mempermudah proses temu kembali. Selain itu, sebagai upaya melestarikan koleksi serah simpan untuk jangka panjang. (*)

Penulis : Rusdin Abdullah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Makassar Olahraga SULSEL

Berkenalan dengan Kholbia dan Dita, Pebulu Tangkis Cilik Murid SD Negeri Borong, Makassar

MAKASSAR, EDELWEISNEWS.COM – Kholbia dan Dita, keduanya murid kelas 4A SD Negeri Borong, Kecamatan Manggala, Kota Makassar. Di sekolahnya yang berada di Jalan Borong Raya Nomor 8, kedua anak ini bermain dan bersenda gurau, layaknya anak-anak seusianya. Siapa nyana, Kholbia dan Dita punya potensi sebagai pemain bulu tangkis andal di masa mendatang. Bulu tangkis merupakan […]

Read more
Bulukumba SULSEL

SSB Batugarumbing Tantang Teror, Pemuda Bontonyeleng Menolak Bungkam

BULUKUMBA, EDELWEISNEWS.COM – Teror tak menyurutkan langkah SSB Batugarumbing. Sanggar Seni Budaya desa ini menjadi sasaran setelah lantang menyeret isu “Desa Tanpa Solusi, Pemuda Bontonyeleng Merespon Agustus Tanpa Dana Desa.” Di balik perayaan dan gegap gempita Agustus, ada luka yang dibiarkan menganga: pemuda yang menuntut transparansi justru dibungkam dengan cara licik. Mereka diserang bukan lewat […]

Read more
Bulukumba SULSEL

Desa Tanpa Solusi, Pemuda Bontonyeleng Merespon Agustus Tanpa Dana Desa

BULUKUMBA, EDELWEISNEWS.COM – Di tengah gegap gempita kemerdekaan yang seharusnya dirayakan dengan semarak, Desa Bontonyeleng, Kabupaten Bulukumba, justru terperosok dalam kegelapan. Tidak ada kegiatan 17 Agustus, tidak ada dukungan bagi pemuda, dan yang tersisa hanyalah kecewa yang menggumpal. Sanggar Seni Budaya Batugarumbing (SSB) berdiri di barisan depan menyuarakan keresahan. Ketua umum mereka, Muh. Alif Dermawan, […]

Read more