Khutbah Jumat : Bukti Keagungan Alquran dan Cara Berinteraksi Dengannya

0
56

Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Alquran dan mengajarkannya.

Kaum muslimin jamaah sholat Jumat hafidzakumullah.

Dalam  Alquran Surat Fussilat Ayat 41 dan 42, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

اِنَّ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا بِالذِّكْرِ لَمَّا جَاۤءَهُمْ ۗوَاِنَّهٗ لَكِتٰبٌ عَزِيْزٌ ۙ

Innal-lażīna kafarū biż-żikri lammā jā’ahum, wa innahū lakitābun ‘azīz(un).

Sesungguhnya orang-orang yang mengingkari Alquran ketika (Alquran) itu disampaikan kepada mereka, (pasti mereka akan celaka). Sesungguhnya (Alquran) itu adalah kitab yang mulia. (QS Fussilat Ayat 41)

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

لَّا يَأْتِيْهِ الْبَاطِلُ مِنْۢ بَيْنِ يَدَيْهِ وَلَا مِنْ خَلْفِهٖ ۗتَنْزِيْلٌ مِّنْ حَكِيْمٍ حَمِيْدٍ

Lā ya’tīhil-bāṭilu mim baini yadaihi wa lā min khalfih(ī), tanzīlum min ḥakīmin ḥamīd(in).

Tidak ada kebatilan yang mendatanginya, baik dari depan maupun dari belakang. (Alquran itu adalah) kitab yang diturunkan dari Tuhan Yang Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji. (QS Fussilat Ayat 42)

Begitu agungnya Alquran sampai-sampai segala sesuatu yang berhubungan dengan Alquran ikut menjadi agung dan mulia.

Ketika Alquran diturunkan melalui perantara malaikat Jibril, maka malaikat Jibril pun menjadi “Sayyidul Malaikah” penghulu para malaikat dan diberi gelar “Arruhul Amin.”

Ketika Alquran diturunkan kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam, maka beliau pun dinobatkan menjadi “Sayyidul Anbiyai wal Mursalin” Nabi dan Rasul terbaik.

Ketika Alquran diturunkan kepada umat Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam, maka mereka menjadi “Khoirul Umam” umat terbaik.

Ketika Alquran pertama kali diturunkan pada malam “Lailatul Qadar” maka malam tersebut menjadi “Khoirul Layali” bahkan disebutkan dalam Alquran “Khoirun Min Alfi Syahrin” satu malam yang lebih mulia dari seribu bulan.

Ketika Alquran diturunkan pada bulan Ramadhan, maka bulan ini menjadi “Sayyidus Syuhur” bulan terbaik dari seluruh bulan.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

خَيُركُم مَن تَعلٌمَ القُرانَ وَعَلٌمَهَ

Artinya, “Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Alquran dan mengajarkannya.” (HR Imam Al-Bukhari)

Maka demi Allah yang tidak ada Tuhan selain dia, bahwasanya hati manusia yang tersentuh dengan Alquran akan menjadi “Khoirun Naas” sebaik-baik manusia.

Alquran yang ada pada kita, yang kita baca, yang kita hafal, yang kita pelajari, sama persis dengan Alquran yang ada pada masa Nabi. Dengan Alquran, Nabi mendidik sahabatnya generasi awal Islam, sehingga Alquran merubah kehidupan para sahabat secara signifikan, padahal mereka bukan orang yang berpendidikan dan bukan bangsa yang memiliki peradaban seperti bangsa Persia, Romawi atau Bizantium.

Lihat saja bagaimana Umar bin Khattab (Al-faruq), dimana 16 pendapatnya menjadi penyebab turunnya ayat Alquran yang menguatkan pandangan dan pendapat beliau. Sebelum mengucapkan syahadat dikenal sebagai orang yang keras, kasar dan sangat benci Islam. Namun hati Umar lunak dan luluh begitu mendengar adiknya Fatimah membaca Alquran dan setelah itu beliau menjadi benteng terdepan membela Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.

Kemudian ada Abu Dzar Al-Gifari pembegal, perampok, ayahnya pimpinan perampok dari kampung Gifar, hidupnya terbiasa dengan kekerasan dan kejahatan. Setelah tersentuh hatinya oleh Alquran, berubah menjadi seorang yang zuhud, tawadu, menentang semua orang yang cenderung menumpuk harta untuk kepentingan pribadi, meskipun itu sahabatnya sendiri.

Alquran datang merubah perilaku, cara berfikir, tutur kata, sopan santun dan itulah sesungguhnya hakikat mukjizat Alquran yang paling utama yaitu mampu merubah hidup seseorang.

قَالَ رسول الله ص م: إنَّ اللَّهَ يَرفَعُ بِحذَ الكتَاِبِ اَقَوامًا وَيَضَعُ بِه آخَرِينَ

Artinya, “Sesungguhnya Allah mengangkat derajat dan memuliakan beberapa kaum dengan Alquran ini, dan Allah merendahkan beberapa kaum dengan kitab ini pula.” (HR Imam Muslim).

Kaum Muslimin Jamaah Sholat Jumat Hafidzakumullah

Kalau Alquran belum bisa merubah kehidupan kita, itu berarti cara kita berinteraksi dengan Alquran yang bermasalah, perlakuan kita pada Alquran hanya sebatas formalitas. Banyak diantara kita mengklaim dalam sehari mengkhatamkan Alquran satu sampai tiga kali, namun ayat mana yang dipahami, kemudian diamalkan kandungannya? Paling kita hanya bisa berlomba-lomba menghitung pahala dari membacanya.

Alquran memang beda dari kitab suci yang lain, bila dibaca meskipun tidak dipahami tetap mendatangkan pahala, cuma manfatnya menjadi sangat sedikit dibandingkan bila dipahami maknanya. “Siapa yang membaca satu huruf, baginya satu kebaikan, dan satu kebaikan dilipatgandakan jadi sepuluh.”

مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا

Abu Sofyan, Abu Jahal dan Walid Ibnul Mughirah tokoh kafir Quraisy, sengaja datang setiap malam ke rumah Nabi Muhammad SAW sembunyi-sembunyi sekedar ingin mendengarkan Alquran dan mereka sangat tersentuh bahkan mengeluarkan air mata.

Walid Ibnul Mughirah sampai berkata:

وَاللهِ لَقَدْ سَمِعْتُ مِنْ مُحَمّدٍ آنِفًا كَلاَمًا مَا هُوَ مِنْ كَلاَمِ الأِنْسِ، وَلَامِنْ كَلَامِ الجِنِّ، إِنَّ لَهُ لَحَلَاوَة وَإنَّ عَلَيْهِ لَطَلاوَة

Artinya, “Demi Allah, baru saja saya mendengar dari Muhammad, sebuah ucapan yang bukan bahasa manusia, bukan pula bahasa jin. Sungguh sangat indah, penuh makna, menakjubkan dan nikmat untuk didengar.”

Kenapa kafir Quraisy tersentuh dengan Alquran, sementara sebagian besar umat Islam saat ini sama sekali tidak tersentuh sedikitpun dengan Alquran. Penyebabnya adalah “Kita membacanya tanpa kita pahami maknanya dan kita tidak tau apa yang diingankan Alquran dari kita.”

Kebanyakan kita dalam mempelajari Alquran tidak menitikberatkan pada nilai moral atau ruh dari Alquran, tapi hanya terbatas pada teks-teksnya saja. Artinya, kita ini baru mampu menangkap makna Alquran sebatas pada kesakralan dan ritual semata.

Padahal setiap kita membaca, menghafal, mempelajari, mentadabburi lalu mengamalkannya sesuai kesanggupan, maka Alquran menembus ke relung hati, membersihkan kotoran, menyingkap segala kegelapan.

قَالَ سَيِّدُنَا عُثْمَان ابْنُ عَفَّان : لَوْ طَهُرَتْ قُلُوبُكُمْ مَاشَبِعْتُمْ مِنْ كَلاَمِ رَبِّكُمْ

Jika hatimu suci dan bersih, niscaya kamu tidak akan pernah kenyang dengan ayat-ayat Tuhanmu. Artinya kita tidak pernah merasa bosan bersama Alquran. Mukjizat Alquran lebih dahsyat dari kesanggupan Nabi Isa Alaihissalam menghidupkan orang mati. Mukjizat Alquran lebih hebat dari tongkat Nabi Musa Alaihissalam yang bisa menjelma menjadi ular dan dapat membelah lautan.

Alquran mampu mengeluarkan umat yang tidak berperadaban, jahiliyah, saling bunuh hanya karena hal-hal yang sangat sepele, ratusan tahun hidup seperti itu, lalu mereka dijadikan oleh Alquran “Khaira Ummat” sebaik-baik umat.

كُنْتُمْ خَيْرَ اُمَّةٍ اُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُوْنَ بِاللّٰهِ ۗ

Kaum Muslimin Jamaah Sholat Jumat Hafidzakumullah

Tidak ada yang bisa pungkiri keutamaan membaca Alquran, keutamaan menghafal Alquran, namun apakah tujuannya hanya berhenti pada membaca dan menghafal saja atau tujuan sesungguhnya adalah supaya kita memahami maknanya dan mengamalkannya?

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam tidak ingin kita baca dan hafal Alquran seperti rekaman kaset, MP3.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam tidak ingin kita baca dan hafal Alqur’an seperti burung beo yang pandai meniru kalimat yang diulang-ulang saat memberinya makan.

Para sahabat, tabi’in dan tabi’ tabi’in saat membaca dan mempelajari Alquran, tidak akan pindah ke ayat dan surat berikutnya, sebelum mereka paham dan mengamalkan kandungan isi kandungannya.

Sayyidina Utsman bin Affan dan Abdullah ibnu Mas’ud berkata:

كُنَّا إذَا تَعَلَّمْنَا مِنَ النَّبِي صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَشْرَ آيَاتٍ، لَمْ نُجَاوِزِهَا حَتَّى نَتَعَلَّمَ مَا فِيْحَا مِنَ العِلْمِ وَالعَمَلِ

“Jika kami mempelajari sepuluh ayat dari Nabi, maka kami tidak akan pindah ke ayat berikutnya, sebelum kami paham makna yang terkandung dalam sepuluh ayat tersebut kemudian mengamalkannya.”

Jadi ayat itu mereka baca, mereka pahami maknanya, mereka tadabburi, mereka amalkan lalu mereka hafal baru kemudian mereka beralih membaca ayat lainnya.

Metode mereka dalam berinteraksi dengan Alquran adalah: iqra (baca), ifham (pahami), tadabbar (tadabburi), tabbaq (amalkan), ihfadz (jaga dan hafal). Sementara metode kita sekarang adalah: ihfadz, ihfadz dan ihfadz (hafal, hafal dan hafal)

Problem kita dalam bermuamalah dan berintraksi dengan Alquran bukan di bacaannya, bukan pula di hafalannya, membaca dan menghafal Alquran adalah amalan yang sangat-sangat terpuji, sangat mulia, merupakan cahaya di atas cahaya. Syariat Islam bahkan sangat menganjurkan kita untuk mendukung dan memberi semangat para pembaca dan penghafal Alquran agar kemutawatiran Alquran tetap terjaga dengan baik, sehingga Alquran bisa diwariskan secara turun temurun sampai hari kiamat.

Saat ini ada euforia di kalangan umat Islam untuk kembali kepada Alquran, di satu sisi kita bahagia jika umat Islam memiliki perhatian yang sangat besar pada Alquran, tapi disisi lain yang harus diingat dan diperhatikan adalah bahwa Alquran diturunkan bukan sekedar untuk dibaca dan dihafal, yang lebih penting dari itu semua bahwa Alquran adalah “Hudan Linnas” isinya harus dibaca, dihafal, dipelajari, dipahami, kemudian diamalkan dalam kehidupan ini.

وَشِفَآءٌ لِّمَا فِى ٱلصُّدُورِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِينَ

Alquran adalah penyembuh penyakit yang ada di dalam dada sebagai hidayah, petunjuk dan rahmat bagi orang-orang beriman.

Kaum Muslimin Jamaah Sholat Jumat Hafidzakumullah

Berbicara tentang Alquran sesungguhnya membicarakan sesuatu yang tidak pernah ada habisnya. Dari sisi manapun kita memulai pembicaraan maka kita akan temukan dan rasakan, ia bagaikan samudera luas yang dalam dan tidak bertepi. Akan selalu ada hal-hal baru yang kita dapatkan dari hasil tadabbur dan pembacaan kita terhadap Alquran.

Seorang ulama yang bernama DR Muhammad Abdullah Darraz dalam kitab “An-Nabaul Adzhim” mengatakan: Ayat-ayat Alquran itu bagaikan intan, setiap sudutnya memancarkan cahaya yang berbeda dengan apa yang terpancar dari sudutsudut lain. Tidak mustahil jika kita mempersilahkan orang lain memandangnya, maka ia akan melihat lebih banyak ketimbang apa yang kita lihat.

Jika ada kalimat yang bisa dijadikan kesimpulan dalam khutbah singkat ini, khatib ingin mengatakan bahwa:

Alquran disamping harus dibaca dan dihafal juga harus dipelajari, dikaji, ditadabburi dan dipahami maknanya, baik makna tekstual maupun kontekstual “Lafdziyyan Wa Maknawiyyan” sehingga kandungannya dapat diaplikasikan dalam kehidupan.

Alquran adalah wahyu Ilahi yang dijamin kebenarannya “Wahyullahil Ma’shum” sedangkan pemahaman kita terhadap Alquran itu adalah produk manusia “Juhdin Basyari” bisa benar dan bisa juga salah.

Alquran adalah kitab “masa lalu, masa kini dan masa yang akan datang” pemahamannya lentur, fleksibel dan tidak kaku “Solihun Likulli Zamanin wa Makanin” Alquran selalu sesuai dengan segala waktu dan tempat. Kapanpun dan dimanapun Alquran tetap dan tetap menjadi sumber kebenaran yang mutlak, yang tidak ada keraguan di dalamnya dan menjadi pedoman hidup umat manusia.

Sumber:

Khutbah Jumat ini ditulis oleh KH Abu Hurairah Abd. Salam Lc, MA (Wakabid Penyelenggaraan Peribadatan Badan Pengelola Masjid Istiqlal/ BPMI), dilansir dari laman resmi Masjid Istiqlal.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini