Mengemuka Usulan Agar Pemkab Gowa Buat Perda Tradisi dan Sastra Lisan Berbahasa Makassar

GOWA, EDELWEISNEWS.COM – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Gowa dan DPRD Kabupaten Gowa didesak membuat Peraturan Daerah (Perda) sebagai upaya pelindungan, pelestarian serta pemajuan tradisi dan sastra lisan berbahasa Makassar.

Usulan ini mengemuka dalam kegiatan “Workshop Tradisi Lisan: Strategi Pelestarian dan Pemajuan Kebudayaan Berbasis Pendidikan Karakter di Era Digital”, yang diadakan di Saung Rewako, Desa Jenetallasa, Kecamatan Pallangga, Kabupaten Gowa, Sabtu (23 Agustus 2025).

Regulasi dalam bentuk Perda ini penting mengingat tradisi dan sastra lisan Makassar itu merupakan identitas budaya lokal yang sarat makna. Selain berisi nasihat, filosofi, kearifan dan nilai moral juga mengandung doa-doa.

Ada ilmu pengetahuan, gambaran sosial, aspek spiritual, dan kultural yang perlu didokumentasikan dan didigitalisasi. Bahkan perlu diadakan festival dan pertunjukan untuk menghidupkan aneka tradisi dan sastra lisan berbahasa Makassar ini.

“Kita orang Makassar ini kaya dengan tradisi dan sastra lisan. Sayangnya, kurang diminati oleh generasi muda kita,” jelas Yahya Syamsuddin, S.Th.I, M.Ag penggiat kampung Seni Paropo.

Yahya kemudian menguraikan macam-macam tradisi dan sastra lisan itu. Antara lain, rupama (dongeng), kelong, teater kondo buleng, sinrilik, kacaping, royong, ganrang bulo, pepe-pepeka ri makka, toeng, dan aru. Ada pula dondo, baca-baca, pagakgara, pakkio bunting, sikkiri, barasanji, doangang, dan gambus.

Saat menyampaikan materi “Seni Pertunjukan Rakyat Masa Kini”, Yahya tak hanya mengulasnya tetapi juga mendendangkannya secara merdu.

Tantangan menghidupkan tradisi dan sastra lisan ini, kata Yahya, adalah bagaimana memahami teks atau syairnya, cara melantunkannya, dan konteks kapan tradisi itu dipertunjukkan.

Aru atau angngaru misalnya, dianggap tidak cocok ditampilkan dalam acara pernikahan. Apalagi dalam beberapa kasus sudah memakan korban.

“Sulit kita bisa menghidupkan tradisi dan sastra lisan berbahasa Makassar bila tidak bisa bercakap-cakap dan memahami bahasanya,” kata Dr Azis Nojeng, S.Pd, M.Pd akademisi FPBS UNM.

Nojeng yang dikenal pula sebagai penyiar Radio Gamasi FM dan pemain teater itu, menambahkan bahwa tradisi lisan berbahasa Makassar itu indah dan puitis.

Tradisi lisan itu, kata dia, disebut warisan budaya tak benda karena yang mau diwariskan bukan fisik bendanya. Melainkan pengetahuan, kearifan, dan nilai-nilainya.

Saat menyampaikan materi “Komodifikasi Tradisi Lisan ke Ranah Digital”, Nojeng menegaskan, bahwa tradisi kita tak harus dipertentangkan dengan agama. Sebab ada banyak nilai agama di dalam tradisi itu, dan sekaligus bisa dijadikan sebagai sarana menyampaikan nilai-nilai agama.

Dikatakan, agar tradisi lisan tidak terpinggirkan oleh arus besar globalisasi maka perlu segera didokumentasikan dalam bentuk teks, foto dan video, serta didigitalisasi.

Nojeng yang mengangkat royong dalam disertasinya, mengungkapkan bahwa tradisi dan sastra lisan itu punya muatan pendidikan karakter. Dahulu dipraktikkan oleh orangtua ketika menidurkan anak, yang diberi nasihat dan doa-doa tetapi dengan cara didendangkan.

Tradisi lisan ini termasuk salah satu objek pemajuan kebudayaan, menurut Undang-Undang Nomor 5 tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan. Selain tradisi lisan, ada pula manuskrip, adat istiadat, ritus, pengetahuan tradisional, teknologi tradisional, seni, bahasa, permainan rakyat, dan olahraga tradisional.

Rusdin Tompo, pegiat literasi dan Koordinator SATUPENA Sulawesi Selatan, menjadi moderator kegiatan yang dilakukan di kawasan wisata dengan pemandangan hamparan sawah itu. Sebagai legal drafter Perda Sulawesi Selatan Nomor 5 Tahun 2023 tentang Literasi Aksara Lontaraq, Bahasa, dan Sastra Daerah, dia menyambut positif usulan pembuatan Perda terkait tradisi dan sastra lisan berbahasa Makassar.

Musa, S.Kom, MM akademisi LP3I, ketika menyampaikan materi “Menghidupkan Tradisi Lisan di Era Artificial Intelligence” mengatakan, bahwa kemajuan teknologi bisa membantu proses kreativitas dan produktivitas kita.

“Perlu kolaborasi antara pelaku seni budaya dengan content creator untuk menghidupkan tradisi dan sastra lisan kita di jagat maya,” saran praktisi IT itu.

Musa juga menyarankan agar pelestarian dan pemajuan tradisi dan sastra lisan itu dilakukan melalui penerapan kurikulum pada lembaga pendidikan. Juga melalui dukungan komunitas, dan pembiasaan dalam keluarga.

Peserta workshop ini cukup beragam, mulai dari pelajar, mahasiswa, guru, pustakawan, penggiat literasi, juga seniman, dan staf dari instansi pemerintah Kabupaten Gowa.

Ada banyak usulan mengemuka dalam workshop. Selain mendorong lahirnya Perda, peserta juga mengusulkan dibuatkan komik dan animasi bagi kalangan anak-anak, penulisan karya sastra berupa cerpen dan novel, serta pembuatan film dokumenter.

Kegiatan workshop yang berlangsung selama 3 hari (22-24 Agustus 2025) ini diadakan oleh Yayasan Kebudayaan Aruna Ikatuo Indonesia.

Ketua Yayasan Kebudayaan Aruna Ikatuo Indonesia, Dr Sumarlin Rengko HR, SS, M.Hum mengatakan workshop tradisi lisan ini merupakan bagian dari program Fasilitasi Pemajuan Kebudayaan (FPK) 2025 Balai Pemajuaan Kebudayaan Wilayah XIX Kementerian Kebudayaan RI. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Makassar SULSEL

Resmi Diluncurkan, Kota Makassar Jadi Pilot Project Nasional Gerakan Peduli Tetangga untuk Perkuat Perlindungan Sosial

MAKASSAR, EDELWEISNEWS.COM — Pemerintah Kota Makassar terus memperkuat komitmen menghadirkan perlindungan sosial yang inklusif, merata, dan tepat sasaran. Melalui Gerakan Nasional Peduli Tetangga, Kota Makassar dipercaya menjadi salah satu daerah percontohan (pilot project) nasional dalam penguatan sistem pendataan dan pelayanan Perlindungan Sosial (Perlinsos) tahun 2026. Komitmen tersebut ditandai dengan peluncuran Gerakan Nasional Peduli Tetangga untuk […]

Read more
Makassar SULSEL

Wali Kota Munafri Dampingi Mensos RI Luncurkan Gerakan Peduli Tetangga di Makassar

MAKASSAR, EDELWEISNEWS COM — Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin, mendampingi Menteri Sosial RI, Saifullah Yusuf, meluncurkan Gerakan Nasional Peduli Tetangga untuk Perlindungan Sosial (Perlinsos) di Gedung Olahraga (GOR) Sudiang, Minggu (4/10/2026). Peluncuran program strategis Kementerian Sosial (Kemensos) RI ini untuk memperluas jangkauan pendataan dan akses pelayanan sosial bagi masyarakat kurang mampu melalui penguatan peran masyarakat […]

Read more
Makassar SULSEL

Kuatkan Nilai Kebangsaan dan Moderasi Beragama, Andi Muh Ihsan Gelar Sosialisasi Empat Pilar di Makassar

MAKASSAR, EDELWEISNEWS.COM – Indonesia adalah negara yang majemuk, terdiri dari beragam suku, agama, ras, danantargolongan. Keberagaman ini di satu sisi merupakan kekayaan nasional yang tak ternilai, namun di sisi lain memiliki kerentanan terhadap potensi konflik sosial jika tidak dikelola dengan nilai-nilai kebangsaan yang kuat.0 Empat Pilar Kebangsaan yakni Pancasila, UUD 1945, NKRI dan Bhinneka Tunggal […]

Read more